Notification

×

Iklan

Iklan

PAUD dalam Pelukan Keberagaman: Inilah Strategi Mengelola Kelas Multikultural Sejak Usia Dini

Selasa, 13 Januari 2026 | 21.03 WIB Last Updated 2026-01-13T14:05:07Z
Foto, kegiatan belajar mengajar di ruang kelas Paud di Indonesia.


Queensha.id - Pendidikan,


Ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hari ini tak lagi seragam. Anak-anak datang membawa latar belakang budaya yang beragam di mulai dari bahasa, kebiasaan keluarga, nilai hidup, hingga cara berinteraksi. Di tengah perbedaan itu, kelas PAUD justru menyimpan potensi besar untuk menanamkan nilai toleransi dan empati sejak dini, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.


Mengelola kelas PAUD multikultural bukan sekadar soal mengatur kegiatan belajar, melainkan menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan menghargai setiap perbedaan. Dalam konteks ini, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga fasilitator dan teladan dalam membangun sikap saling menghormati.


Sikap Guru Menjadi Kunci

Langkah awal pengelolaan kelas yang inklusif dimulai dari sikap guru. Anak usia dini sangat peka terhadap ekspresi dan perilaku orang dewasa. Ketika guru menunjukkan penerimaan dan empati terhadap perbedaan, anak-anak akan menirunya secara alami. Tanpa ceramah panjang, nilai menghargai sesama tumbuh dari contoh nyata.


Rutinitas yang Menciptakan Rasa Aman

Rutinitas kelas yang konsisten menjadi fondasi penting, terutama bagi anak dari latar budaya berbeda. Jadwal harian yang jelas memberikan rasa aman dan prediktabilitas, sehingga anak lebih mudah beradaptasi meski memiliki kebiasaan rumah yang tidak sama.


Menjembatani Perbedaan Bahasa

Bahasa kerap menjadi tantangan tersendiri di kelas multikultural. Guru dapat menyiasatinya dengan menggunakan bahasa sederhana, gerak tubuh, ekspresi wajah, serta media visual. Lagu, gambar, dan cerita bergambar terbukti efektif membantu anak memahami instruksi sekaligus membangun kedekatan emosional.


Merayakan Budaya Lewat Aktivitas Kelas

Pengelolaan kelas yang inklusif dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi budaya. Anak diajak mengenal lagu daerah, cerita rakyat, atau makanan khas secara bergantian. Aktivitas ini membuat anak merasa budayanya dihargai sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap perbedaan.


Permainan kelompok juga menjadi sarana penting. Lewat bermain, anak belajar bekerja sama, menunggu giliran, dan berinteraksi positif tanpa harus bergantung pada kemampuan bahasa yang kompleks.


Menangani Konflik dengan Empati

Perbedaan latar belakang tak jarang memunculkan kesalahpahaman kecil. Di sinilah peran guru menjadi krusial. Dengan pendekatan tenang, guru membantu anak mengenali perasaannya, memahami sudut pandang teman, dan mencontohkan cara menyelesaikan masalah secara damai.



Pengelolaan kelas multikultural tak lepas dari peran orang tua. Komunikasi terbuka membantu guru memahami latar belakang anak sekaligus menyelaraskan nilai yang diterapkan di sekolah dan di rumah. Sinergi ini memperkuat rasa aman dan kepercayaan anak.


Lingkungan fisik kelas juga dapat mencerminkan keberagaman. Buku cerita, poster, dan alat bermain yang merepresentasikan berbagai budaya menyampaikan pesan kuat bahwa semua anak diterima dan dihargai tanpa kecuali.


Mengelola kelas PAUD dengan anak beragam budaya memang menuntut kesadaran, kesabaran, dan kreativitas.


Namun, di ruang kecil inilah benih toleransi, empati, dan hidup berdampingan secara harmonis mulai ditanam. PAUD bukan hanya tempat belajar mengenal huruf dan angka, tetapi ruang awal membangun masa depan masyarakat yang inklusif.


***
Tim Redaksi.