Queensha.id — Edukasi Islam,
Sejarah mencatat Namrudz bin Kan‘an sebagai salah satu simbol kesombongan manusia paling ekstrem. Ia bukan sekadar raja zalim, tetapi penguasa yang melampaui batas kemanusiaan yaitu mengaku sebagai tuhan, menantang Allah SWT, bahkan menabrak fitrah paling dasar manusia dengan menikahi ibu kandungnya sendiri.
Kisah Namrudz bukan dongeng sensasional. Ia hidup dalam lintasan sejarah keimanan dan diabadikan Al-Qur’an sebagai peringatan lintas zaman tentang bagaimana kekuasaan tanpa iman melahirkan kerusakan total.
Raja yang Mengaku Tuhan
Allah SWT mengabadikan kesombongan Namrudz dalam perdebatan legendarisnya dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan…”
Dengan pongah, Namrudz berkata, “Aku menghidupkan dan mematikan.”
Ia membunuh satu orang dan membebaskan yang lain, lalu menganggap dirinya setara dengan Tuhan semesta alam.
Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), kesalahan terbesar Namrudz bukan sekadar klaim ketuhanan, tetapi rusaknya cara berpikir akibat kesombongan.
“Ketika seseorang merasa berkuasa absolut, akalnya mati. Ia tidak lagi bisa membedakan kuasa Allah dan kuasa makhluk,” terang Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.
Ketika Fitrah Dihancurkan oleh Kekuasaan
Kesombongan Namrudz tidak berhenti pada pengakuan sebagai tuhan. Dalam berbagai riwayat tafsir dan kisah ulama salaf, disebutkan bahwa Namrudz:
1. Menghalalkan apa yang Allah haramkan.
2. Menjadikan hawa nafsu sebagai hukum negara.
3. Menghapus batas halal dan haram.
Hingga pada puncak kehinaan yakni menikahi ibu kandungnya sendiri.
Menurut Prof. Quraish Shihab, tindakan seperti ini menunjukkan fase paling berbahaya dalam sejarah manusia yaitu ketika hawa nafsu menggantikan wahyu.
“Jika fitrah rusak, manusia lebih hina dari binatang. Binatang tidak melanggar nalurinya, manusia melanggarnya dengan sadar,” jelas Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah.
Allah SWT berfirman:
“Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Istidraj: Kekuasaan yang Menipu
Pertanyaan klasik pun muncul yaitu mengapa Allah membiarkan Namrudz berkuasa begitu lama?
Para ulama sepakat, inilah yang disebut istidraj yang merupakan penangguhan azab agar dosa mencapai puncaknya.
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menjelaskan:
“Istidraj itu bukan kasih sayang. Itu justru hukuman yang ditunda agar kehancurannya sempurna.”
Allah SWT berfirman:
“Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.” (QS. Al-A‘raf: 182)
Semakin lama Namrudz berkuasa, semakin besar dosa dan kehinaannya.
Kematian Paling Memalukan Seorang Raja
Allah tidak menurunkan pasukan malaikat. Tidak menurunkan petir. Tidak mengguncang bumi.
Allah hanya mengirim seekor nyamuk.
Nyamuk itu masuk melalui hidung Namrudz, menuju otaknya. Rasa sakitnya tak tertahankan. Ia bahkan meminta kepalanya dipukul agar rasa sakit berkurang.
"Raja yang mengaku tuhan itu tak mampu mengusir nyamuk, tak mampu menyelamatkan diri dan tak mampu menunda kematian".
KH Abdul Somad (UAS) pernah menegaskan:
“Allah ingin menunjukkan, sehebat apa pun manusia, ia bisa dihancurkan oleh makhluk yang tak bernilai.”
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk…” (QS. Al-Baqarah: 26)
Cermin bagi Zaman Sekarang
Para ulama Indonesia sepakat, kisah Namrudz bukan cerita masa lalu, melainkan peringatan untuk setiap zaman yang termasuk hari ini.
"Ketika, Dosa dinormalisasi, Kesombongan dipuja, Hukum Tuhan dianggap kuno, Nafsu dijadikan standar kebenaran. Maka manusia sedang berjalan di jejak Namrudz.
Allah telah mengingatkan:
“Dan janganlah orang-orang kafir menyangka bahwa penangguhan Kami itu baik bagi mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 178)
Sejarah Namrudz adalah alarm keras yaitu siapa pun yang menghancurkan fitrah, akan dihancurkan dengan cara paling hina.
Semoga Allah menjaga kita dari kesombongan, dari istidraj yang menipu, dan dari dosa yang merusak kemanusiaan.
Aamiin.
***
Tim Redaksi.