Notification

×

Iklan

Iklan

950 Tahun Dakwah yang Diabaikan: Kesombongan Bani Rasib Berakhir di Banjir Pemusnah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13.15 WIB Last Updated 2026-01-17T06:16:58Z
Foto, ilustrasi. Kapal Nabi Nuh AS.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Kesombongan kerap membuat manusia lupa diri. Kekayaan yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi berhala baru. Kisah Nabi Nuh AS dan bani Rasib menjadi peringatan keras tentang bagaimana keangkuhan kolektif sebuah kaum berujung pada kehancuran yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.



Nabi Nuh AS adalah nabi dan rasul yang diutus Allah SWT untuk menyeru bani Rasib agar kembali ke jalan tauhid.


Menurut buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul karya M. Arief Hakim, bani Rasib dikenal sebagai kaum yang congkak, zalim, dan terlena oleh limpahan harta. Kekayaan dijadikan ukuran martabat dan harga diri, sementara kaum fakir dipandang hina, diremehkan, bahkan ditindas.


Di tengah kondisi sosial yang timpang itu, Nabi Nuh AS hadir membawa pesan ketauhidan dan keadilan. Dakwah beliau bukan sebentar. Selama 950 tahun hingga hampir satu abad kehidupan manusia, Nuh AS tanpa lelah menyeru kaumnya agar meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah SWT.
Namun seruan itu tak pernah benar-benar didengar.


Dalam Qashash Anbiya susunan Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi, diceritakan bahwa setiap generasi bani Rasib selalu mewariskan pesan yang sama kepada anak cucu mereka yaitu jangan mengikuti ajaran Nuh AS dan perangi dakwahnya. Kesesatan bukan hanya dipertahankan, tetapi diajarkan secara turun-temurun.


Allah SWT mengabadikan keteguhan dakwah Nabi Nuh AS dalam surah Al-Ankabut ayat 14:


“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”


Berabad-abad berdakwah tanpa hasil membuat Nabi Nuh AS berada di titik keletihan yang amat dalam. 


Namun keputusasaan itu bukan karena lemah iman, melainkan karena kerasnya hati kaumnya yang menolak kebenaran. Ia pun mengadu kepada Allah SWT sebagaimana tercantum dalam surah Asy-Syu‘ara ayat 117–118:


“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
Doa itu dikabulkan.


Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS membangun sebuah bahtera raksasa sebagai persiapan menghadapi azab yang akan diturunkan. 


Ironisnya, perintah suci itu justru menjadi bahan olok-olok. Bani Rasib mencemooh Nabi Nuh AS yang membangun kapal di daratan, seolah-olah ia tengah melakukan kegilaan besar.


Saat bahtera rampung, Nabi Nuh AS diperintahkan memasukkan orang-orang beriman serta hewan-hewan secara berpasang-pasangan. Tak lama setelah itu, azab Allah SWT pun turun. Hujan deras dan banjir besar melanda bumi dengan kedahsyatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Menurut Ibnu Ishaq, banjir itu berlangsung selama dua tahun, dua bulan, dan 26 hari. Air menelan daratan, menghapus peradaban, dan membinasakan bani Rasib yang tetap ingkar. Bahkan anak Nabi Nuh AS sendiri, Kan’an, turut menjadi korban karena memilih kekafiran.


Setelah air surut dan bumi kembali tenang, Nabi Nuh AS turun dari bahtera dengan rasa syukur yang mendalam. Namun peristiwa itu juga meninggalkan luka sejarah: kebenaran telah disampaikan selama ratusan tahun, tetapi kesombongan menutup semua pintu hidayah.


Kisah Nabi Nuh AS bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin abadi tentang bahaya kesombongan, ketimpangan sosial, dan keangkuhan manusia yang merasa aman di balik harta dan kekuasaan. Ketika peringatan diabaikan terlalu lama, azab bisa datang tanpa kompromi.


***
Tim Redaksi.