Ketika liang lahat ditutup dan langkah kaki manusia menjauh, dunia benar-benar berakhir bagi sang mayit. Tidak ada lagi suara azan, tidak ada lagi kesempatan taubat, dan tidak ada lagi alasan. Yang tersisa hanyalah amal—dan balasannya.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa kubur adalah fase penentu: bisa menjadi taman surga, atau justru lubang dari api neraka. Bagi sebagian manusia, kubur bukan tempat istirahat, melainkan awal dari azab yang panjang dan menakutkan.
Salah satu gambaran azab kubur yang paling menggetarkan adalah hadirnya asy-syuja‘ al-aqra‘, ular ganas yang disebut dalam hadis sahih sebagai jelmaan dari dosa yang diabaikan semasa hidup.
Dosa yang Menjelma Makhluk Azab
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa harta yang tidak dizakati akan diubah menjadi ular botak berbisa pada hari kiamat. Para ulama tafsir dan hadis menjelaskan bahwa azab tersebut tidak menunggu hari kebangkitan semata, tetapi telah dimulai sejak alam kubur.
Ular kubur bukan sekadar simbol, melainkan bentuk konkret dari dosa yang terus dipelihara: shalat yang ditinggalkan, zakat yang ditahan, hak orang lain yang dirampas, serta lisan yang terbiasa berdusta dan bergunjing.
Dalam berbagai atsar disebutkan, ular tersebut menggigit sang mayit seraya berkata, “Aku adalah amal burukmu.” Penyesalan pun datang, namun terlambat.
Pandangan Ulama Indonesia: Bukan Dongeng, Tapi Akidah
Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa keyakinan tentang azab kubur (termasuk ular kubur) merupakan bagian dari akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), ulama NU yang dikenal dengan pendekatan tafsir kontekstual, menjelaskan bahwa gambaran azab kubur harus dipahami sebagai peringatan serius agar manusia tidak meremehkan kewajiban. Menurutnya, amal buruk memang dapat menjelma bentuk yang menyiksa, sebagaimana amal baik menjelma penolong.
Sementara itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menekankan bahwa Al-Qur’an dan hadis tidak pernah menyampaikan ancaman tanpa tujuan pendidikan. Azab kubur, termasuk simbol ular, adalah bentuk keadilan Allah agar manusia sadar bahwa dosa yang dianggap kecil di dunia bisa berdampak besar di akhirat.
Dari kalangan Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas (alm.) pernah menegaskan bahwa azab kubur adalah perkara ghaib yang wajib diimani berdasarkan dalil sahih. Namun yang terpenting, kata beliau, bukan memperdebatkan bentuk azabnya, melainkan memperbaiki amal agar terhindar darinya.
Kubur yang Berbeda Nasib
Tidak semua kubur ditemani kengerian. Bagi orang beriman, kubur justru menjadi ruang yang lapang dan bercahaya. Amal shalih datang dalam rupa yang menenangkan dan berkata, “Aku adalah shalatmu, sedekahmu, dan dzikirmu.”
Rasulullah SAW bersabda bahwa kubur berbicara setiap hari sebagai rumah kesepian dan kegelapan. Namun ketaatan mengubahnya menjadi taman surga, bukan sarang azab.
Peringatan untuk yang Masih Hidup
Ular kubur bukan cerita horor, bukan pula dongeng pengantar tidur. Ia adalah peringatan keras bagi manusia yang gemar menunda shalat, meremehkan zakat, dan menganggap taubat selalu bisa dilakukan “nanti”.
Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Ulama sepakat, selama nyawa masih di badan, pintu taubat belum tertutup. Namun ketika tanah sudah menekan dan penyesalan datang, tidak ada lagi jalan kembali.
Semoga Allah melindungi kita dari azab kubur, menjadikan amal kita cahaya, dan menjauhkan kita dari teman kubur yang mengerikan.
Allahumma ajirna min ‘adzabil qabr. Aamiin.
***
Tim Redaksi.