Queensha.id — Teknologi,
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap industri kreatif secara drastis. Salah satu yang paling menonjol adalah kemunculan video AI, yang kini kerap disandingkan (bahkan dibandingkan) dengan video kartun atau animasi tradisional dan 3D. Meski sekilas tampak serupa, para pakar teknologi informasi di Indonesia menegaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar yang tidak bisa disederhanakan.
Perbedaan utama antara video AI dan animasi kartun terletak pada proses pembuatan, konsistensi visual, serta tingkat keterlibatan kreativitas manusia.
Proses Cepat vs Proses Artistik
Video AI dihasilkan secara otomatis oleh mesin berbasis algoritma melalui perintah teks (prompt), gambar, atau video sumber. Proses ini dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit, menjadikannya sangat efisien untuk kebutuhan konten instan, seperti pemasaran digital dan media sosial.
Sebaliknya, video kartun dibuat melalui tahapan panjang dan terstruktur. Mulai dari penulisan cerita, pembuatan sketsa, desain karakter, hingga proses animasi yang dikerjakan langsung oleh animator dan seniman visual.
Menurut Onno W. Purbo, pakar IT dan edukator digital Indonesia, kecepatan AI memang mengesankan, tetapi tidak bisa disamakan dengan proses kreatif manusia.
“AI itu mempercepat produksi, tapi bukan pencipta makna. Dalam animasi, manusia tidak hanya menggerakkan gambar, tapi menyampaikan emosi, nilai, dan pesan,” ujarnya dalam sebuah diskusi teknologi kreatif.
Konsistensi Visual Masih Jadi Tantangan AI
Dalam praktiknya, video AI kerap menghadapi masalah konsistensi visual. Detail seperti jari tangan, tekstur kulit, atau bayangan sering berubah antar frame, sehingga memunculkan kesan tidak stabil.
Berbeda dengan animasi kartun yang memiliki konsistensi tinggi. Setiap elemen visual dirancang secara sadar dan terkontrol oleh animator, memastikan gaya, warna, dan karakter tetap seragam dari awal hingga akhir.
Pakar teknologi kreatif Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, menilai hal ini sebagai batas alami AI saat ini.
“AI bekerja berdasarkan probabilitas data. Ia tidak ‘memahami’ bentuk secara utuh seperti manusia. Karena itu, detail kecil sering menjadi titik lemah,” jelasnya.
Gerakan dan Ekspresi yaitu Mesin vs Rasa
Dari sisi kualitas gerakan, video AI masih sering terlihat kaku dan robotik, terutama pada ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Sementara dalam animasi kartun, gerakan dirancang untuk mengekspresikan emosi cerita mulai dari marah, sedih, bahagia hingga secara halus dan dramatis.
“Animasi adalah seni rasa. AI bisa meniru gerak, tapi belum bisa meniru empati,” kata Budi Rahardjo, pakar IT dan keamanan siber Indonesia.
Orisinalitas dan Sentuhan Manusia
Video AI menghasilkan konten dari pola data yang sudah ada, sering kali berupa campuran berbagai gaya visual. Sementara animasi kartun lahir dari visi kreatif manusia yang spesifik, menjadikannya lebih orisinal dan bernilai artistik.
Para pakar sepakat bahwa meskipun AI dapat membantu proses produksi, peran manusia tetap menjadi penentu kualitas dan makna karya.
Efisiensi Waktu, Bukan Pengganti Kreator
Tidak dapat dipungkiri, video AI unggul dari sisi efisiensi waktu dan biaya. Namun animasi kartun unggul dalam kualitas, konsistensi, dan kedalaman cerita.
“AI seharusnya dilihat sebagai alat bantu kreator, bukan pengganti kreator,” tegas Onno W. Purbo.
Meski teknologi AI mampu menghadirkan video bergaya kartun dengan cepat dan masif, perbedaan mendasar tetap terletak pada keterlibatan kreativitas manusia.
Video AI unggul dalam kecepatan, sementara video kartun animasi unggul dalam rasa, visi, dan keutuhan cerita.
Di mata para pakar IT Indonesia, masa depan industri kreatif bukan tentang memilih AI atau manusia, melainkan kolaborasi cerdas antara teknologi dan kreativitas manusia.
***
Tim Redaksi.