Notification

×

Iklan

Iklan

AI Datang Tanpa Permisi sebagai Penolong Masa Depan atau Ancaman Lapangan Kerja?

Minggu, 18 Januari 2026 | 06.49 WIB Last Updated 2026-01-17T23:50:20Z
Foto, ilustrasi gambar dari pengertian teknologi AI.


Queensha.id - Teknologi,


Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini melaju jauh lebih cepat daripada kesiapan sosial masyarakat. Dari kantor-kantor perusahaan, ruang redaksi media, industri kreatif, hingga layar televisi, AI hadir sebagai alat baru yang menjanjikan efisiensi sekaligus memicu kegelisahan.


Di satu sisi, teknologi ini membuka peluang besar. Di sisi lain, ia menimbulkan kecemburuan sosial, terutama bagi mereka yang kehilangan atau kesulitan mendapatkan pekerjaan akibat otomatisasi.


Mengenal Teknologi AI: Mengapa Kita Tak Bisa Menghindar

AI adalah teknologi yang memungkinkan mesin meniru cara berpikir manusia yaitu belajar dari data, mengenali pola, hingga mengambil keputusan. Dalam praktiknya, AI digunakan untuk analisis data, penulisan naskah, penyuntingan video, pembuatan gambar, hingga pengelolaan sistem bisnis.


Bagi pihak yang berkepentingan yaitu perusahaan, media, lembaga pendidikan, hingga konten kreator, AI justru menjadi alat yang hampir mustahil diabaikan. Ia memangkas waktu, menekan biaya, dan meningkatkan produktivitas. Inilah alasan mengapa banyak perusahaan menjadikannya penunjang utama operasional.


Namun, kemajuan ini tidak datang tanpa konsekuensi sosial.


Ketika AI Menggeser Pekerjaan Manusia

Banyak masyarakat merasakan dampak langsung: lowongan kerja menyempit, beberapa posisi dihapus, dan tugas manusia digantikan sistem otomatis. Bahkan, industri televisi yang dahulu mengandalkan kreativitas manusia, kini mulai menayangkan karya berbasis AI yakni mulai dari visual, ilustrasi, hingga naskah.


Kondisi ini memicu kecemburuan sosial. Bukan semata karena teknologi itu canggih, tetapi karena tidak semua orang memiliki akses, literasi, dan kesempatan untuk beradaptasi.


Konten Kreator dan AI yaitu Alat atau Ancaman?

Di ranah kreator digital, AI menjadi pisau bermata dua. Banyak kreator terbantu dalam proses ide, penyuntingan, dan produksi konten. Namun, di saat yang sama, AI juga melahirkan persaingan tidak seimbang yaitu konten instan, cepat, dan masif yang menekan kreator konvensional.
Tanpa pemahaman etika dan batasan, AI berpotensi menggerus nilai orisinalitas.


Mengatasi Kecemburuan Sosial terhadap AI

Kecemburuan sosial tidak bisa diselesaikan dengan menolak teknologi.

Solusinya justru terletak pada (Literasi) digital yang merata, agar masyarakat memahami AI sebagai alat, bukan musuh.


Peningkatan keterampilan manusia, khususnya pada aspek yang tidak bisa digantikan mesin yaitu empati, kreativitas mendalam, dan penilaian moral.


Kebijakan perlindungan tenaga kerja, agar AI menjadi pendamping, bukan pengganti total manusia.


Manfaat Besar Teknologi AI

Tidak bisa dipungkiri, AI membawa banyak manfaat:

1. Meningkatkan efisiensi kerja.

2. Membantu pengambilan keputusan berbasis data.

3. Membuka peluang profesi baru di bidang teknologi.

4. Mempermudah akses informasi dan pendidikan.

5. Mendorong inovasi lintas sektor.


Jika dimanfaatkan dengan bijak, AI justru bisa menjadi akselerator kesejahteraan.


Sisi Negatif yang Tak Boleh Diabaikan

Namun, sisi gelap AI juga nyata:

1. Hilangnya lapangan kerja tertentu.

2. Ketergantungan berlebihan pada mesin.

3. Menurunnya nilai keaslian karya.

4. Potensi penyalahgunaan data dan privasi.

5. Munculnya kejahatan digital berbasis AI.

6. Salah satu yang paling berbahaya adalah manipulasi identitas.


AI sebagai Alat Penipuan: Deepfake dan Manipulasi Video

Kini, AI mampu membuat video yang sangat meyakinkan dengan mengatasnamakan seseorang—deepfake. Wajah, suara, dan gerak tubuh dapat direkayasa seolah-olah asli. Dampaknya serius: penipuan, fitnah, kerusakan reputasi, hingga ancaman stabilitas sosial dan politik.


Masyarakat awam sering kali sulit membedakan mana video asli dan mana hasil rekayasa.


Cara Membedakan Video AI dan Video Asli

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Perhatikan ekspresi wajah yang tidak alami atau gerakan mata yang janggal.

2. Cermati sinkronisasi suara dan bibir.

3. Periksa sumber video dan akun penyebarnya.

4. Bandingkan dengan rekaman resmi dari sumber terpercaya.

5. Gunakan alat pendeteksi deepfake yang kini mulai tersedia.



Pandangan Tokoh IT Indonesia

Sejumlah praktisi dan pakar IT terkemuka di Indonesia menekankan bahwa AI bukan ancaman utama yang berbahaya adalah manusia yang menggunakannya tanpa etika dan regulasi. Mereka menilai, Indonesia harus fokus pada penguatan sumber daya manusia, regulasi teknologi, serta pendidikan digital sejak dini.


Menurut kalangan IT, AI seharusnya menjadi co-pilot bagi manusia, bukan pengendali. Tanpa arah kebijakan yang jelas, AI justru bisa memperlebar jurang sosial dan ekonomi.


Jadi, AI telah datang dan tak mungkin diputar balik. Tantangannya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan manusia mengelolanya. Jika dibiarkan liar, ia bisa menjadi ancaman. Namun jika diarahkan dengan etika, regulasi, dan literasi, AI justru akan menjadi alat pembebasan, bukan penindasan.


Masa depan bukan tentang manusia melawan mesin, melainkan tentang manusia yang mampu hidup berdampingan dengan kecerdasannya sendiri.


***
Tim Redaksi.