Notification

×

Iklan

Iklan

Antara Iman dan Fenomena Sosial: Ulama Indonesia Jelaskan Hakikat Ain di Era Pamer Media Sosial

Minggu, 08 Februari 2026 | 15.22 WIB Last Updated 2026-02-08T08:23:24Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook. Edukasi sosial.


Queensha.id — Edukasi Sosial,

Fenomena memamerkan kemewahan di media sosial kembali memantik perbincangan publik, terutama terkait kepercayaan tentang ‘ain atau pengaruh pandangan mata yang disertai iri dan dengki. Dalam tradisi Islam, ‘ain diyakini sebagai sesuatu yang nyata, meski tak kasatmata, dan sering dikaitkan dengan berbagai kemalangan yang menimpa seseorang setelah mendapat sorotan berlebihan.


Secara sederhana, ‘ain dipahami sebagai dampak buruk dari pandangan mata seseorang yang disertai rasa iri, dengki, atau kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah SWT. Kepercayaan ini menyebutkan bahwa ‘ain dapat memicu gangguan fisik, kesehatan, bahkan masalah dalam kehidupan seseorang, meskipun tidak selalu disengaja.


Namun bagaimana pandangan ulama terkemuka di Indonesia?


Diakui dalam Akidah, Bukan untuk Menakut-nakuti

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, dalam beberapa kajian keislaman menegaskan bahwa ‘ain diakui dalam ajaran Islam karena terdapat dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu hadis menyebutkan bahwa pengaruh ‘ain itu nyata. Meski demikian, ia menekankan agar umat tidak berlebihan hingga menimbulkan ketakutan.


“‘Ain itu ada dalam ajaran Islam. Tetapi bukan berarti setiap musibah atau sakit langsung dikaitkan dengan ‘ain. Umat tetap harus rasional, berobat, dan berikhtiar,” ujarnya dalam salah satu ceramah yang banyak dikutip di berbagai media dakwah.


Pandangan serupa disampaikan Quraish Shihab. Cendekiawan Muslim ini menilai ‘ain memang diakui dalam teks keagamaan, tetapi harus dipahami secara proporsional. Ia mengingatkan agar kepercayaan terhadap ‘ain tidak membuat seseorang mudah menuduh orang lain atau mengabaikan sebab-sebab ilmiah dari suatu penyakit.


“Islam mengajarkan keseimbangan. Jika sakit, berobatlah. Jika mendapat nikmat, bersyukurlah. Jangan semua disederhanakan menjadi ‘ain,” ujarnya dalam beberapa kajian tafsir.


Bijak Bersosial Media

Di tengah maraknya budaya pamer gaya hidup di media sosial, sejumlah ulama dan dai di Indonesia mengingatkan pentingnya menjaga adab dalam menunjukkan nikmat. Ustaz Adi Hidayat, misalnya, kerap mengingatkan agar setiap keberhasilan atau harta yang dimiliki disertai rasa syukur dan penyebutan nama Allah.


“Jika melihat sesuatu yang menakjubkan, ucapkan masyaAllah. Jika mendapat nikmat, perbanyak syukur dan sedekah,” tuturnya dalam salah satu kajian.


Sementara itu, Ustaz Abdul Somad menekankan bahwa ‘ain bukan sekadar soal pandangan orang lain, tetapi juga ujian bagi pemilik nikmat agar tidak berlebihan dalam memamerkan. Ia menyarankan umat Islam menjaga keseimbangan antara berbagi kebahagiaan dan menjaga kerendahan hati.


Edukasi, Bukan Stigma

Para ulama sepakat, keyakinan terhadap ‘ain seharusnya menjadi pengingat untuk memperkuat spiritualitas, bukan memicu kecurigaan sosial. Masyarakat diimbau tetap mengedepankan pendekatan medis jika mengalami sakit atau masalah kesehatan, sembari memperkuat doa, dzikir, dan sedekah.


Fenomena ‘ain di era digital akhirnya bukan hanya persoalan teologis, tetapi juga sosial. Budaya pamer yang berlebihan dinilai bisa memicu kecemburuan, sementara kerendahan hati dan rasa syukur diyakini menjadi kunci menjaga keberkahan.


Di tengah derasnya arus media sosial, para ulama mengajak umat untuk lebih bijak: nikmat boleh dibagikan, tetapi tidak semua harus dipertontonkan. Sebab dalam pandangan keagamaan, menjaga hati orang lain dan menjaga diri dari kesombongan adalah bagian dari menjaga keberkahan hidup.


***
Tim Redaksi.