Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Banyak Gadis Mudah Menyerahkan Keperawanannya kepada Kekasihnya, Ini Pandangan Psikologi dan Ulama

Minggu, 15 Februari 2026 | 19.47 WIB Last Updated 2026-02-15T12:49:11Z
Foto, ilustrasi gambaran pasangan kekasih.


Queensha.id — Edukasi Sosial,


Fenomena hubungan pranikah di kalangan remaja dan dewasa muda terus menjadi sorotan publik. Pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah: mengapa seorang gadis bisa dengan mudah menyerahkan keperawanannya kepada kekasih? Apakah semata karena nafsu, cinta, atau ada faktor lain yang lebih kompleks?


Para ahli psikologi, tokoh agama, dan ulama di Indonesia menilai persoalan ini tidak bisa disederhanakan. Ada kombinasi faktor emosional, sosial, hingga minimnya pendidikan moral dan agama yang memengaruhi keputusan tersebut.



Psikolog keluarga menyebutkan bahwa banyak perempuan mengambil keputusan dalam hubungan bukan semata karena dorongan biologis, tetapi karena faktor emosional. Perasaan cinta, kepercayaan, ketakutan ditinggalkan, hingga tekanan dari pasangan sering kali menjadi pemicu.
Dalam relasi yang tidak sehat, sebagian perempuan merasa harus “membuktikan cinta” agar hubungan tetap bertahan.


Narasi romantisasi di media sosial dan lingkungan pergaulan juga berperan dalam membentuk persepsi bahwa hubungan fisik adalah bentuk kedekatan yang wajar.


Minimnya komunikasi keluarga dan pendidikan seks yang sehat membuat banyak remaja tidak memiliki rambu yang jelas. Akibatnya, keputusan penting diambil dalam kondisi emosional dan tanpa pertimbangan jangka panjang.


Pandangan Ulama Indonesia

Ulama dari berbagai ormas Islam menegaskan bahwa hubungan seksual di luar pernikahan adalah perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Namun mereka juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menyalahkan perempuan.


Tokoh tafsir Al-Qur’an Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab moral. Menurutnya, penyebab utama maraknya pergaulan bebas adalah melemahnya kontrol diri, lingkungan yang permisif, serta jauhnya generasi muda dari nilai spiritual.


Pendakwah dari kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga sering menekankan pentingnya pendidikan akhlak dan ketahanan keluarga. Mereka menilai perempuan kerap menjadi korban relasi yang timpang, di mana laki-laki mendorong hubungan fisik namun perempuan menanggung stigma sosial lebih berat.


Ulama seperti Buya Yahya mengingatkan bahwa menjaga kehormatan diri adalah tanggung jawab bersama. Ia menegaskan bahwa dosa dalam hubungan pranikah tidak hanya ditanggung perempuan, tetapi juga laki-laki yang terlibat.


Apakah Nafsu Perempuan Lebih Tinggi?

Pertanyaan tentang apakah nafsu perempuan lebih tinggi daripada laki-laki sering muncul dalam diskusi publik. Para ulama dan ahli psikologi sepakat bahwa dorongan biologis ada pada keduanya, namun cara mengekspresikannya berbeda.


Dalam kajian ulama klasik, disebutkan bahwa perempuan juga memiliki syahwat, tetapi secara umum laki-laki cenderung lebih agresif dalam mengekspresikan dorongan tersebut. Namun ulama kontemporer menekankan bahwa yang terpenting bukan siapa yang lebih tinggi, melainkan bagaimana mengendalikan diri.


Menurut Quraish Shihab, Islam mengajarkan pengendalian nafsu bagi laki-laki dan perempuan. Pernikahan dipandang sebagai jalan yang sah untuk menyalurkan kebutuhan biologis sekaligus menjaga kehormatan.


Tanggung Jawab Bersama

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan moral generasi muda bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Stigma yang hanya menyalahkan perempuan dinilai tidak adil dan justru memperparah keadaan.


Para ulama Indonesia mengajak masyarakat untuk memperkuat pendidikan agama, komunikasi keluarga, dan pemahaman tentang relasi yang sehat. Mereka juga mengingatkan pentingnya menghargai diri sendiri dan tidak menjadikan tubuh sebagai alat pembuktian cinta.


Di tengah perubahan zaman dan arus budaya global, nilai-nilai moral tetap menjadi fondasi penting. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menjaga generasi muda agar tidak terjerumus dalam keputusan yang berisiko bagi masa depan mereka.


***
Tim Redaksi.