Queensha.id - Edukasi Sosial,
Fenomena bayi yang lahir dengan telapak tangan menggenggam kerap memunculkan pertanyaan filosofis di tengah masyarakat. Dalam sebuah ceramah yang beredar di YouTube, dai asal Jawa Timur, KH Anwar Zahid, menafsirkan kondisi tersebut sebagai simbol sifat dasar manusia.
Menurutnya, genggaman tangan bayi melambangkan kecenderungan manusia yang ingin tahu, ingin memiliki, ingin menguasai, bahkan berpotensi menjadi serakah jika tidak dibimbing nilai agama dan akhlak.
“Sejak lahir manusia sudah membawa potensi ingin memiliki. Maka tugas orang tua dan pendidikan adalah mengarahkan agar keinginan itu menjadi kebaikan, bukan keserakahan,” ujarnya dalam ceramah tersebut.
Pernyataan itu memantik diskusi luas, terutama tentang bagaimana ulama memandang filosofi genggaman tangan bayi dalam perspektif Islam.
Simbol Fitrah dan Potensi
Ulama Indonesia umumnya melihat fenomena bayi menggenggam bukan sekadar simbol keserakahan, melainkan tanda fitrah dan potensi yang masih suci. Cendekiawan Muslim, Quraish Shihab, dalam berbagai kajian menjelaskan bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah membawa potensi baik dan buruk yang akan dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan pilihan hidupnya.
Dalam pandangan tersebut, genggaman bayi bisa dimaknai sebagai potensi: kemampuan untuk menerima, belajar, dan kelak memberi. Tangan yang menggenggam saat lahir akan terbuka ketika manusia belajar berbagi.
Sementara itu, pendakwah karismatik KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam sejumlah tausiyahnya menekankan bahwa sifat ingin memiliki adalah naluri manusia. Namun, naluri itu harus diolah menjadi rasa syukur dan kedermawanan.
“Semua manusia punya keinginan memiliki. Tapi orang beriman belajar melepaskan, berbagi, dan tidak diperbudak oleh keinginan,” demikian pesan yang sering disampaikan dalam ceramahnya.
Dari Genggaman Menuju Berbagi
Secara filosofis, sebagian ulama memaknai perjalanan hidup manusia sebagai perubahan dari “menggenggam” menjadi “membuka tangan”. Bayi lahir menggenggam, tetapi saat meninggal dunia, tangannya terbuka. Hal ini sering dijadikan simbol bahwa manusia tidak membawa apa pun ketika kembali kepada Tuhan.
Pandangan ini menekankan bahwa harta, kekuasaan, dan kepemilikan hanyalah titipan. Tugas manusia adalah mengelola keinginan memiliki agar tidak berubah menjadi keserakahan.
Dalam perspektif pendidikan spiritual, filosofi genggaman bayi justru menjadi pengingat bagi orang tua dan masyarakat. Anak yang lahir membawa potensi keinginan harus diarahkan agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang peduli, dermawan, dan tidak terjebak pada sifat tamak.
Makna untuk Kehidupan Modern
Di tengah kehidupan modern yang kompetitif dan materialistis, tafsir tentang genggaman bayi menjadi refleksi moral. Ulama menekankan bahwa sifat ingin memiliki adalah naluri manusia, tetapi harus diseimbangkan dengan nilai keikhlasan dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, genggaman tangan bayi bukan sekadar refleks biologis, melainkan simbol perjalanan manusia: dari potensi keinginan menuju kedewasaan spiritual. Manusia diajak belajar membuka tangan—untuk berbagi, memberi, dan menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.
***
Tim Redaksi.