| Foto, Pegiat media sosial yang juga epidemiolog perilaku Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) meluncurkan buku. |
Queensha.id — Jakarta,
Jagat politik nasional kembali ramai setelah dokter sekaligus pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau dikenal sebagai Dokter Tifa meluncurkan buku berjudul “Otak Politik Jokowi”, sebuah karya yang langsung memantik diskusi luas di masyarakat.
Peluncuran buku tersebut digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (26/2/2026). Buku ini secara khusus membedah pola berpikir politik Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, melalui pendekatan analisis ilmiah dan kritik politik.
Mengupas “Cara Berpikir Politik” Jokowi
Dalam pemaparannya, Dokter Tifa menyebut buku tersebut bukan sekadar opini politik biasa, melainkan analisis terhadap konsep dan strategi politik yang menurutnya membentuk kepemimpinan Jokowi selama menjabat.
Ia menggunakan pendekatan yang disebut neuropolitika merupakan gabungan beberapa disiplin ilmu seperti:
1. Neurosains,
2. Psikologi perilaku,
3. Analisis forensik,
4. Kritik politik.
Metode ini mencoba membaca keputusan politik melalui sudut pandang cara kerja otak manusia dalam mengambil keputusan kekuasaan.
Dokter Tifa bahkan menegaskan bahwa penggunaan nama Jokowi secara langsung dalam judul buku adalah bentuk keberanian akademik.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus disampaikan secara terbuka tanpa disamarkan.
Siapa Dokter Tifa?
Tifauzia Tyassuma dikenal sebagai epidemiolog, penulis, sekaligus aktivis media sosial yang kerap menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik dan pemerintahan.
Ia bukan figur baru dalam kontroversi nasional. Sejumlah pandangannya terkait politik dan kebijakan negara sering memicu perdebatan keras antara pendukung dan pengkritik pemerintah.
Karena itu, kehadiran buku ini langsung menjadi perhatian publik, bukan hanya sebagai karya literasi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika demokrasi Indonesia.
Buku Politik yang Bukan Sekadar Buku
Peluncuran “Otak Politik Jokowi” menunjukkan satu fenomena penting yaitu politik Indonesia kini tidak hanya terjadi di parlemen atau istana, tetapi juga di ruang akademik, media sosial, dan dunia literasi.
Buku politik di Indonesia sering menjadi:
1. Alat kritik kekuasaan,
2. Ruang diskusi demokrasi,
3. Cermin polarisasi masyarakat.
Sebagian kalangan melihat buku ini sebagai kritik intelektual terhadap kekuasaan. Sebagian lain menilai sebagai opini politik yang kontroversial.
Namun satu hal jelas bahwa buku tersebut berhasil memancing diskursus nasional.
Mengapa Buku Ini Ramai Dibahas?
Ada beberapa alasan mengapa publik luas menaruh perhatian:
1. Menggunakan nama presiden secara langsung dalam judul.
2. Ditulis oleh figur yang dikenal vokal terhadap pemerintah.
3. Terbit di tengah situasi politik nasional yang masih sensitif pasca masa pemerintahan Jokowi.
4. Mengangkat pendekatan ilmiah untuk membaca strategi kekuasaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terbuka terhadap kritik, analisis, dan debat politik di ruang publik.
Pelajaran untuk Masyarakat
Bagi masyarakat luas, munculnya buku seperti “Otak Politik Jokowi” sebenarnya menjadi tanda sehatnya demokrasi.
Demokrasi tidak hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga:
1. Mengkritisi kebijakan,
2. Menguji gagasan pemimpin,
3. Membuka ruang dialog antara rakyat dan kekuasaan.
Perbedaan pandangan adalah hal wajar dalam negara demokratis. Yang terpenting bukan sepakat atau tidak sepakat, melainkan kemampuan masyarakat membaca informasi secara kritis, objektif, dan dewasa.
Karena pada akhirnya, buku politik bukan untuk memecah bangsa melainkan untuk membuat publik berpikir.
***
Sindonews.
Tim Redaksi.