Notification

×

Iklan

Iklan

Puasa dan 9 Lubang Tubuh: Pesan KH Anwar Zahid tentang Mengendalikan Nafsu di Bulan Ramadan

Kamis, 19 Februari 2026 | 23.42 WIB Last Updated 2026-02-19T16:43:11Z
Foto, Ulama Indonesia, KH Anwar Zahid.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Ceramah-ceramah agama yang disampaikan KH Anwar Zahid kerap memuat perumpamaan sederhana namun tajam. Salah satu yang sering dikutip masyarakat adalah pesan tentang pentingnya menahan nafsu dari “9 lubang tubuh” selama bulan Ramadan. Pesan ini bukan sekadar simbolik, melainkan mengandung makna filosofis dan etika spiritual yang dalam bagi umat Islam.


Dalam ceramahnya, KH Anwar Zahid menyebut bahwa manusia memiliki sembilan lubang pada tubuh yaitu mata, telinga, hidung, mulut, alat kelamin, dan anus yang jika tidak dijaga dapat menjadi pintu masuk dosa dan maksiat. Ramadan, menurutnya, adalah momentum untuk melatih pengendalian diri dari seluruh potensi tersebut.



Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang merusak nilai ibadah. Dua mata, misalnya, harus dijaga dari melihat hal-hal yang diharamkan. Dua telinga diingatkan agar tidak mendengar ghibah, fitnah, atau hal negatif yang dapat merusak hati. Begitu pula mulut, yang tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga ucapan yang menyakitkan, bohong, atau kotor.


Dalam ceramahnya, KH Anwar Zahid menyoroti dua lubang tubuh yang paling berpotensi menjerumuskan manusia pada maksiat, yakni alat kelamin dan anus. Menurutnya, dua hal ini berkaitan erat dengan syahwat dan kebersihan diri, sehingga harus dijaga secara ketat selama Ramadan dan seterusnya.


Filosofi tersebut menekankan bahwa puasa adalah latihan total bagi tubuh dan jiwa. Manusia diminta tidak hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga secara moral dan spiritual. Pengendalian terhadap seluruh anggota tubuh diharapkan melahirkan pribadi yang lebih sabar, bersih, dan berakhlak.


Pandangan Ulama di Indonesia

Sejumlah ulama di Indonesia menilai pesan tersebut sejalan dengan ajaran Islam tentang menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dalam berbagai kajian, para ulama menekankan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang menjaga pandangan, pendengaran, lisan, dan perilaku.


Tokoh dari Majelis Ulama Indonesia kerap mengingatkan bahwa puasa memiliki dimensi lahir dan batin. Secara lahir, umat menahan makan dan minum. Secara batin, umat diminta menahan hawa nafsu, amarah, dan segala bentuk maksiat yang bisa mengurangi pahala puasa.


Sementara itu, ulama dari kalangan pesantren tradisional juga menegaskan bahwa pengendalian anggota tubuh adalah inti dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Mereka menilai, pesan yang disampaikan KH Anwar Zahid mudah dipahami masyarakat karena menggunakan bahasa sederhana dan contoh konkret.


Pesan Moral bagi Masyarakat

Di tengah kehidupan modern yang penuh godaan visual, informasi, dan perilaku konsumtif, pesan tentang menjaga “9 lubang tubuh” menjadi relevan. Ramadan bukan hanya ritual tahunan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan sehari-hari di mulai dari cara melihat, mendengar, berbicara, hingga berperilaku.


Filosofi tersebut mengingatkan bahwa manusia memiliki kendali atas dirinya. Puasa menjadi sarana latihan agar setelah Ramadan berakhir, kebiasaan menjaga diri tetap berlanjut. Dengan demikian, ibadah puasa tidak berhenti pada menahan lapar, tetapi berlanjut pada pembentukan karakter dan akhlak yang lebih baik.


***
Tim Redaksi.