Notification

×

Iklan

Iklan

Salah Paham di Pertigaan Kaligede Kecapi Jepara Berujung Tawuran, Dua Pihak Saling Lapor ke Polisi

Senin, 09 Februari 2026 | 06.34 WIB Last Updated 2026-02-08T23:35:36Z
Foto, ilustrasi. Tawuran antar warga. (Cirebon - Sindonews).




Keributan antarwarga yang berawal dari kesalahpahaman berujung tawuran di Dukuh Kaligede, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Minggu malam (8/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Peristiwa tersebut melibatkan sejumlah warga dari Desa Kecapi, Desa Lebak, hingga satu warga Kelurahan Kauman, dan kini berujung saling lapor ke Polres Jepara.


Ferry Aji Prasetyo, warga RT 18 RW 03 Desa Kecapi, didampingi Imam Mustaqhfirin, menyampaikan kepada awak media bahwa bentrokan terjadi setelah pertemuan beberapa pemuda dari Desa Lebak dan warga sekitar lokasi kejadian. Menurutnya, kesalahpahaman muncul saat ia bersama keponakannya berhenti di pertigaan Dukuh Kaligede untuk menunggu adiknya di depan warung nasi goreng.


“Awalnya saya hanya duduk di atas motor. Tiba-tiba ada yang menuduh saya hendak memukul keponakan sendiri. Lalu ada yang menggertak dan langsung terjadi perkelahian. Saya bahkan dipukul dari belakang menggunakan kunci kontak motor,” ujar Ferry, dikutip dari Sigapnews.


Ia menyebut, dalam insiden itu adiknya Ivan Fernanda DP sempat melakukan perlawanan setelah melihat dirinya diserang. Keributan sempat mereda, namun memanas kembali ketika ibunya, Rofiatun, yang datang menjemput justru mengalami tindakan kekerasan berupa jambakan rambut dan pukulan. Situasi itu memicu perlawanan dari pihak Ferry dan rombongannya.


Akibat bentrokan tersebut, tujuh orang dari pihak Ferry mengalami luka dan menjalani pemeriksaan medis. Tiga orang menjalani visum di UPTD Puskesmas Pakis Aji pada Selasa (3/2/2026), sementara empat lainnya, termasuk Rofiatun, diperiksa di RS Graha Husada sehari setelahnya. Rofiatun dilaporkan mengalami luka ringan.


Ferry menegaskan bahwa dirinya tidak berniat membuat keributan di lingkungan sendiri. “Masak sesama warga Dukuh Kaligede saya akan menggeruduk tetangga sendiri. Saya hanya ingin pulang setelah menunggu adik,” katanya.


Namun, versi berbeda disampaikan Murwandim, warga RT 17 RW 03 Desa Kecapi. Dalam klarifikasinya melalui pesan WhatsApp kepada media, ia menyebut keributan bukan dipicu kesalahpahaman semata, melainkan diduga karena rombongan Ferry mencari seorang pemuda bernama Danu untuk melampiaskan dendam. Ia menilai kehadiran rombongan dari luar desa memancing reaksi warga setempat.


“Diduga mereka mencari Danu sampai ke rumah-rumah. Saat ditemukan di warung nasi goreng, situasi memanas dan memancing reaksi warga,” tulis Murwandim. 


Ia juga menyebut jumlah rombongan yang datang sekitar 10 orang.
Akibat insiden ini, kedua pihak saling melaporkan dugaan pengeroyokan ke Polres Jepara pada Selasa (3/2/2026). Ferry melapor dengan nomor STPLP/96/II/2026/Reskrim, sementara Murwandim melapor dengan nomor STPLP/92/II/2026/Reskrim.


Petinggi Desa Kecapi, Sukambali, mengatakan pihak desa telah menggelar mediasi pada Jumat siang (6/2/2026) di balai desa dengan melibatkan perangkat desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa. Ia berharap persoalan antarwarga dapat diselesaikan secara musyawarah tanpa merugikan pihak manapun.


“Saya berharap persoalan ini bisa selesai melalui mediasi dan tidak berlarut-larut. Kita libatkan tiga pilar desa agar situasi kembali kondusif,” ujarnya.


Sukambali juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendapat laporan keributan pada malam kejadian sekitar pukul 23.30 WIB. Saat tiba di lokasi bersama perangkat desa, warga masih berkerumun, namun para pelaku perkelahian sudah tidak berada di tempat.


Kasus ini kini masih dalam penanganan pihak kepolisian. Aparat diharapkan mampu mengurai kronologi sebenarnya serta meredam potensi konflik lanjutan antarwarga.


***
Tim Redaksi.
(Queensha Jepara, 9 Februari 2026)