| Foto, CEO UIPM Indonesia, Rantastia Nur Alangan. |
Queensha.id — Jakarta,
Era digital menghadirkan satu realitas baru yang sulit disangkal: konflik kini menjadi komoditas. Perdebatan, hujatan, hingga polemik di media sosial bukan lagi sekadar ekspresi emosi publik, tetapi telah menjadi bagian dari model bisnis global bernama attention economy atau ekonomi perhatian.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia digital. Platform media sosial bekerja menggunakan algoritma yang secara alami mendorong konten dengan reaksi emosional tinggi.
Konten yang memancing kemarahan, perdebatan, atau kontroversi cenderung mendapatkan jangkauan lebih luas dibandingkan konten edukatif yang tenang.
Konflik Jadi Mesin Algoritma
Dalam ekosistem digital saat ini, perhatian adalah mata uang baru. Algoritma platform digital dirancang untuk:
1. Mengangkat konten yang memicu emosi kuat,
2. Mendorong interaksi berupa komentar dan perdebatan,
3. Memberi ruang lebih besar pada konten yang viral.
Akibatnya, muncul kesadaran baru di kalangan kreator konten bahwa konflik memiliki nilai ekonomi.
Hujatan menghasilkan engagement,
engagement menghasilkan views,
dan views bermuara pada monetisasi.
“Ini bukan semata soal ideologi atau pandangan politik. Yang bekerja sebenarnya adalah sistem insentif ekonomi digital,” ujar CEO UIPM Indonesia, Rantastia Nur Alangan, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, banyak individu akhirnya terjebak dalam logika algoritma karena tekanan untuk tetap relevan di ruang digital yang kompetitif.
Tidak Semua Orang Tahan Tekanan Digital
Namun tidak semua individu mampu menghadapi perubahan zaman digital dengan cara yang sama.
Sebagian masyarakat terbawa arus emosi dan menjadi produsen konflik. Sebagian lainnya menjadi konsumen konflik yang terus menerus menyerap konten provokatif.
Di sisi lain, masih ada kelompok yang memilih tetap tenang, tidak terpancing, dan fokus membangun kualitas diri.
“Inilah titik di mana karakter manusia diuji. Teknologi berkembang cepat, tetapi kedewasaan sosial tidak selalu ikut berkembang,” kata Rantastia.
Ujian Kedewasaan Kolektif Bangsa
Nilai-nilai kebangsaan Indonesia sebenarnya menawarkan arah berbeda.
Semangat Pancasila menekankan kebebasan yang bertanggung jawab, kritik yang beradab, serta persatuan di atas perpecahan.
Masalahnya, sistem digital global tidak dirancang berdasarkan nilai kebangsaan atau etika sosial. Ia dibangun di atas satu indikator utama: durasi tontonan dan jumlah klik.
Akibatnya, ruang publik digital sering kali lebih menghargai sensasi dibanding substansi.
Realitas Zaman yang Keras
Kondisi ini melahirkan paradoks sosial:
Orang sabar terlihat lambat,
Orang santun terasa kalah suara,
Sementara figur provokatif tampak dominan.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pembangunan bangsa tidak pernah ditentukan oleh pihak yang paling gaduh, melainkan oleh mereka yang konsisten, bekerja dalam diam, dan tahan terhadap ujian zaman.
Pilihan Generasi Digital
Rantastia menilai masyarakat Indonesia saat ini berada di persimpangan penting.
Pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal siapa yang paling viral, tetapi siapa yang paling matang menghadapi perubahan.
Apakah masyarakat akan ikut bermain dalam logika konflik demi popularitas digital, atau justru menjadi generasi penyeimbang yang menjaga adab di tengah kebisingan media sosial?
“Era digital adalah ujian kedewasaan kolektif. Teknologi bisa mempercepat konflik, tetapi manusialah yang menentukan arah peradaban,” tegasnya.
Pada akhirnya, masa depan ruang digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh algoritma, tetapi oleh pilihan sikap penggunanya sendiri.
***
Tim Redaksi.