Queensha.id – Media Sosial,
Jagat media sosial diramaikan perdebatan unik sekaligus serius menjelang Ramadan 2026. Warganet membandingkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sajian tradisional Nusantara atau sajen yang oleh sebagian orang dijuluki sebagai “makanan demit”.
Alih-alih bernuansa mistis, sajian tradisional tersebut justru dinilai memiliki keberagaman nutrisi, filosofi kehidupan, hingga dampak ekonomi kerakyatan yang luas.
Perbandingan ini muncul setelah sejumlah unggahan memperlihatkan menu MBG Ramadan yang dianggap minimalis, sementara sajian sajen tampil lebih lengkap dengan nasi tumpeng, buah, sayuran, hingga bunga simbolik.
Viral di Media Sosial: Kritik Dibungkus Tradisi
Unggahan warganet menyoroti kontras antara menu MBG yang disiapkan secara programatik dengan sajen tradisional yang disusun penuh makna.
Sebagian netizen menyebut, makanan yang sering dilabeli “makanan demit” justru mencerminkan konsep gizi seimbang ala leluhur Nusantara.
Diskursus ini berkembang menjadi kritik sosial: apakah program modern berbasis anggaran besar mampu menyamai kebijaksanaan pangan tradisional yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat adat?
Sajen Bukan Sekadar Ritual Mistis
Dalam kajian antropologi klasik The Religion of Java, antropolog Clifford Geertz menjelaskan praktik sajen sebagai bagian dari tradisi slametan, yaitu upaya masyarakat mencapai kondisi “slamet” — keadaan harmonis tanpa gangguan sosial maupun spiritual.
Bagi masyarakat adat, sajen bukan memberi makan makhluk gaib, melainkan bahasa simbolik hubungan manusia dengan alam semesta.
Pandangan ini diperkuat oleh antropolog Indonesia Koentjaraningrat yang menyebut sajen sebagai bentuk visual doa dan ungkapan syukur atas keseimbangan hidup.
Makna Filosofis di Balik Sajen Nusantara
Setiap elemen sajen memiliki simbol kehidupan:
1. Nasi Tumpeng — Komunikasi Vertikal
Bentuk kerucut melambangkan gunung suci, simbol hubungan manusia dengan Tuhan. Warna putih melambangkan kesucian, sedangkan kuning bermakna kemuliaan.
2. Pisang Raja — Martabat dan Warisan Kebaikan
Pisang dipilih karena seluruh bagian pohonnya bermanfaat. Filosofinya: manusia harus meninggalkan manfaat sebelum hidup berakhir.
3. Kembang Setaman — Keindahan Budi
Mawar merupakan pengendalian hawa nafsu dan Melati adalah ketulusan hati. Sedangkan Kenanga/Kantil merupakan ingatan kepada pencipta dan leluhur.
Secara nutrisi, kombinasi karbohidrat, buah, protein, dan hasil bumi dalam sajen mencerminkan konsep pangan lokal beragam yang kini kembali dipromosikan ahli gizi modern.
Nilai Ekologis: Ritual yang Menjaga Alam
Menariknya, praktik sajen tidak hanya bersifat simbolik. Banyak tradisi meletakkan sajen di mata air, hutan kecil, atau pohon besar.
Secara tidak langsung, praktik ini menciptakan zona konservasi tradisional.
Tempat yang dianggap sakral otomatis:
1. Tidak ditebang,
2. Tidak dicemari,
3. Dijaga masyarakat.
Berbagai studi lingkungan menunjukkan wilayah yang dilindungi melalui tradisi adat sering memiliki biodiversitas lebih tinggi dibanding kawasan eksploitasi modern.
Transformasi: Dari Ritual Menjadi Sedekah Sosial
Seiring masuknya agama-agama besar di Nusantara, praktik sajen mengalami transformasi budaya.
Dalam masyarakat Islam, nilai simboliknya berubah menjadi:
1. Kenduri,
2. Sedekah makanan,
3. doa bersama.
Sementara dalam tradisi Hindu Bali, sesaji atau banten tetap menjadi representasi miniatur alam semesta dalam ibadah harian.
Artinya, akar budaya tetap hidup tanpa meninggalkan nilai spiritual baru.
Motor Ekonomi Kerakyatan yang Sering Terlupakan
Di balik ritual sederhana, sajen ternyata menggerakkan ekonomi rakyat.
Permintaan rutin terhadap:
1. Bunga tabur,
2. Janur,
3. Ayam kampung,
4. Pisang raja,
5. Daun pisang,
6. Dupa dan lilin.
Hal ini dipercaya membuat petani kecil, pedagang pasar tradisional, dan pelaku UMKM tetap bertahan.
Tradisi spiritual secara tak langsung menciptakan rantai ekonomi lokal yang stabil hingga sesuatu yang kini banyak dibicarakan kembali dalam konsep ekonomi berbasis budaya.
Lebih dari Sekadar Perbandingan Menu
Perdebatan “makanan demit vs menu MBG” sejatinya bukan soal mistis melawan modernitas.
Diskusi ini membuka refleksi besar:
bahwa kearifan pangan Nusantara sejak lama telah memadukan gizi, filosofi, ekologi, dan ekonomi rakyat dalam satu hidangan.
Di tengah upaya negara memperbaiki program gizi nasional, masyarakat berharap pendekatan modern tidak melupakan pelajaran penting dari tradisi: makanan bukan sekadar angka anggaran, tetapi juga budaya, nilai, dan kejujuran dalam pengelolaannya.
***
Bacaini.
Tim Redaksi.