Notification

×

Iklan

Iklan

AI Katanya Gratis, RAM-Nya Bikin Nangis: Ketika Mahasiswa dan UMKM Jadi Korban Peradaban Digital

Minggu, 18 Januari 2026 | 07.08 WIB Last Updated 2026-01-18T00:10:38Z
Foto, (ilustrasi) pengguna teknologi AI yang mengeluhkan biaya upgrade RAM mahal.


Queensha.id - Opini Publik,


Di ruang-ruang kelas kampus, di warung kopi yang disulap jadi kantor UMKM digital, hingga di kamar kos pekerja lepas, keluhan itu makin sering terdengar: laptop cepat panas, aplikasi makin berat, dan harga upgrade RAM bikin dompet sesak napas. Anehnya, semua terjadi di era ketika teknologi (terutama AI) digembar-gemborkan sebagai solusi murah, cepat, dan inklusif.


Masalahnya, ada ongkos yang jarang dibicarakan dengan jujur.


AI yang Tampak Cerdas, tapi Rakus Diam-Diam

Ledakan kecerdasan buatan membuat dunia digital terlihat semakin “ajaib”. Menulis, mendesain, mengedit video, bahkan menganalisis data kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Namun di balik semua kemudahan itu, AI adalah pengguna memori kelas berat.


Bagi sistem AI modern, RAM bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat hidup. Tanpa memori besar dan stabil, algoritma secanggih apa pun hanya akan jadi pajangan presentasi. Inilah yang memicu lonjakan permintaan RAM secara global itu bukan dari konsumen biasa, melainkan dari data center dan server raksasa.


Akibatnya sederhana tapi menyakitkan: RAM jadi rebutan, harga naik, dan pengguna kecil harus mengalah.


Ketika Pasar Berpihak pada yang Punya Modal

Industri memori tidak bisa berlari secepat ambisi Silicon Valley. Membangun pabrik RAM butuh waktu panjang dan biaya masif. Sementara itu, perusahaan teknologi besar datang dengan cek terbuka, menyedot pasokan untuk kepentingan AI mereka.


Logika pasar bekerja tanpa rasa iba yaitu siapa berani bayar mahal, dia dapat duluan. Mahasiswa, UMKM, dan pekerja digital kecil? Mereka kebagian sisa dengan harga yang sudah tidak ramah akal sehat.


Inilah ironi besar peradaban digital yaitu teknologi yang katanya mendemokratisasi akses justru menciptakan jarak baru.


AI Gratis di Layar, Mahal di Kehidupan Nyata

Banyak layanan AI memang tampak gratis. Chatbot bisa dipakai bebas, fitur pintar tersedia di mana-mana. Tapi “gratis” itu hanya di permukaan. Di belakang layar, ada server yang bekerja tanpa henti, memori yang dibakar siang malam, dan biaya yang tidak pernah benar-benar hilang dan hanya dialihkan.


Di Indonesia, dampaknya terasa nyata. Harga laptop naik pelan tapi pasti. HP dengan spesifikasi pas-pasan cepat terasa usang. Upgrade RAM jadi keputusan besar, bukan lagi tambahan kecil. Bagi UMKM digital dan kreator pemula, ini berarti menunda berkembang atau tertinggal pelan-pelan.


AI dan Ketimpangan Digital yang Baru

Selama ini kita sering bicara soal kesenjangan internet. Kini, muncul bentuk baru: kesenjangan memori. Mereka yang punya perangkat mumpuni bisa menikmati AI secara optimal. Sisanya hanya dapat versi “hemat”, atau sekadar menonton orang lain berlari lebih jauh.


AI bukan lagi sekadar teknologi, tapi kemewahan terselubung. Hadir di mana-mana, tapi bekerja maksimal hanya bagi mereka yang sanggup membayar ongkos tak terlihat.


Siapa yang Sebenarnya Membayar Harga AI?

Pertanyaan pentingnya bukan apakah AI bermanfaat memang itu sudah jelas.

Lalu, pertanyaannya? siapa yang menanggung ongkosnya? Saat harga RAM melambung, yang pertama tertekan bukan perusahaan raksasa, melainkan pengguna kecil yang tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri.


Jika semua diserahkan pada mekanisme pasar, ketimpangan ini hanya akan melebar. Inovasi melaju, tapi akses publik tertinggal. AI tumbuh megah di pusat data, sementara di level akar rumput, orang-orang sibuk menghitung apakah perangkatnya masih sanggup bertahan satu tahun lagi.


Refleksi di Tengah Euforia AI

Krisis RAM global mengingatkan kita pada satu hal mendasar: teknologi tidak pernah netral. Ia selalu membawa konsekuensi sosial dan ekonomi. Setiap kemajuan punya harga, dan sering kali, yang membayar paling mahal adalah mereka yang tidak pernah ikut mengambil keputusan.


Era AI seharusnya tidak hanya dirayakan dengan jargon masa depan, tapi juga dibicarakan dengan kejujuran soal ongkos dan distribusi manfaatnya. 


Jika tidak, kita akan hidup di dunia yang cerdas secara teknologi, tapi timpang secara keadilan.
Pada akhirnya, masalahnya bukan sekadar RAM. Ini soal arah peradaban digital yang sedang kita bangun atau apakah untuk semua, atau hanya untuk mereka yang sanggup membeli memori lebih besar.

***