Notification

×

Iklan

Iklan

Euforia Kemenangan Persijap Berujung Ricuh, Tiga Ambulans Relawan Jepara Jadi Korban Amuk Suporter

Minggu, 22 Februari 2026 | 04.13 WIB Last Updated 2026-02-21T21:33:14Z
Foto, mobil ambulans KRJ mengalami kekerasan dari eforia supporter sepak bola di pertandingan Persijap Jepara vs Persebaya Surabaya, Sabtu (21/2/2026) malam di stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.



Queensha.id — Jepara,


Kemenangan Persijap Jepara atas Persebaya Surabaya dengan skor 3–1 dalam lanjutan kompetisi BRI Liga 1 justru ternoda insiden kekerasan antarsuporter yang terjadi seusai pertandingan, Sabtu malam (21/2/2026).


Kericuhan diduga melibatkan dua kelompok suporter fanatik Persijap, yakni CNS (Curva Nord Syndicate) dan Banaspati, di jalan raya depan posko relawan KRJ (Komunitas Relawan Jepara), Jalan Sidik Harun, Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara Kota.


Tiga Ambulans Jadi Korban

Insiden tersebut menyebabkan tiga unit mobil ambulans milik relawan KRJ mengalami kerusakan. Satu ambulans mengalami pecah kaca depan akibat dugaan lemparan botol minuman keras berwarna hijau. Selain itu, bagian samping kanan kaca depan ambulans lainnya terlihat penyok akibat benturan keras.


Ketua Relawan KRJ, Alba Muhammad Muchid, mengungkapkan bahwa jumlah kendaraan terdampak lebih banyak dari yang awalnya diketahui.


“Ternyata ada tiga mobil ambulans yang jadi korban. Yang satu pecah kaca belakang di mobil APV relawan KRJ kena lemparan batu,” ujar Alba Muhammad Muchid, Minggu (22/2/2026) pagi.


Serpihan kaca botol dan batu tampak berserakan di sekitar base camp relawan.
Relawan Kemanusiaan Justru Diserang
Alba mengaku kecewa karena relawan yang selama ini membantu para suporter justru menjadi korban.


“Ya ini mobil ambulans KRJ pecah kaca depan, entah kenapa kok ada kekerasan pada malam setelah pertandingan sepak bola Persijap Jepara vs Persebaya,” ujarnya.


Menurutnya, relawan KRJ selalu siaga membantu siapa pun tanpa melihat identitas kelompok.


“Padahal kami standby 24 jam. Sudah berapa kali korban suporter yang kami tolong saat kecelakaan,” katanya.


Suasana keributan juga membuat keluarga relawan ketakutan.


“Istri dan anak saya ketakutan karena mendengar suara motor dan teriakan keributan,” tambahnya.


Minta Tanggung Jawab Suporter

Atas kejadian tersebut, Alba berharap kedua kelompok suporter yang terlibat dapat menunjukkan tanggung jawab moral.


“Kedua suporter harus tanggung jawab. Haruskah kami bikin laporan ke kepolisian?” tegas Alba Muhammad Muchid.


Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pihak relawan mempertimbangkan langkah hukum apabila tidak ada itikad baik dari pihak yang bertanggung jawab.


Ironi di Tengah Kemenangan

Peristiwa ini menjadi ironi karena terjadi saat Persijap meraih kemenangan penting di kandang sendiri. Euforia kemenangan yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama berubah menjadi aksi anarkis yang merugikan fasilitas kemanusiaan.


Pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai insiden tersebut menunjukkan pentingnya edukasi sportivitas di kalangan suporter.


“Fanatisme sepak bola harus dibarengi kedewasaan emosional. Jika tidak, kemenangan justru berubah menjadi konflik sosial,” ujarnya.


Seruan Menjaga Sportivitas

Masyarakat berharap seluruh elemen suporter dapat menjaga kondusivitas daerah serta menghormati relawan kemanusiaan yang selama ini menjadi garda terdepan membantu korban kecelakaan maupun situasi darurat.


Kemenangan sejati bukan hanya soal skor pertandingan, tetapi bagaimana suporter menjaga martabat klub dan keamanan kota sendiri.


***
Tim Redaksi.