Notification

×

Iklan

Iklan

Alarm Merah Radikalisasi Digital: Remaja Jepara Simulasikan Senjata di Sekolah, Terhubung Jaringan Ekstrem Prancis

Jumat, 09 Januari 2026 | 16.43 WIB Last Updated 2026-01-09T09:46:05Z
Foto, tangkap layar rangkuman densus 88 anti-teror Polri.




Aparat antiteror mengungkap fakta mengkhawatirkan tentang penetrasi ideologi ekstrem di ruang digital yang menyasar anak-anak dan remaja. 


Densus 88 Antiteror Polri menemukan seorang remaja di Jepara terpapar paham kekerasan melalui komunitas daring true crime community (TCC) dan bahkan memeragakan penggunaan senjata api di lingkungan sekolah sebagai simulasi sebelum melancarkan aksi nyata.


Temuan tersebut disampaikan Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1).



Ia menegaskan penanganan kasus dilakukan secara terpadu bersama Polda Jawa Tengah.


Dalam salah satu video yang dipresentasikan Densus 88, remaja tersebut terlihat melakukan simulasi penggunaan senjata api di area sekolah.


Aksi itu diduga sebagai bagian dari glorifikasi kekerasan yang berkembang di dalam komunitas TCC, sebuah ruang daring yang mengemas narasi kriminal secara ekstrem dan berpotensi mendorong tindakan brutal di dunia nyata.
“Yang bersangkutan ingin menjadi pemicu atau pelopor kekerasan atas nama true crime community,” ujar Mayndra.


Densus 88 menyebut, meskipun telah dilakukan intervensi dan pendampingan bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait, kecenderungan remaja itu untuk melakukan kekerasan masih kuat. Bahkan, dalam satu kesempatan, ia diketahui pernah membawa senjata tajam ke sekolah.


Yang lebih mengkhawatirkan, hasil pendalaman menemukan adanya koneksi internasional. Remaja tersebut disebut berkomunikasi dengan tokoh bernama REDA, pendiri Berber Nationalist Third-positionist Group (BNTG) yang berbasis di Prancis


Menurut Mayndra, BNTG merupakan gerakan nasionalisme etnis Berber yang berkembang di ruang digital dengan ideologi Third Positionist, paham ekstrem yang memadukan identitas etnis dengan agenda pembebasan politik secara radikal.


Kasus serupa ternyata tidak hanya terjadi di Jepara. Densus 88 juga mengungkap pencegahan dini terhadap seorang anak berusia 11 tahun di Singkawang, Kalimantan Barat. Anak tersebut terdeteksi memiliki rencana penyerangan di sekolah dengan memanfaatkan bahan peledak, senjata tajam, hingga senjata api.
“Kasusnya cepat terdeteksi dan langsung dicegah,” kata Mayndra.


Di Singkawang, anak tersebut bahkan sempat menyimpan pisau di dalam tas sekolah sebelum aksinya diketahui guru. Berdasarkan pendalaman aparat, motif kekerasan diduga dipicu rasa terasing dari lingkungan pertemanan serta dorongan balas dendam.


Densus 88 menegaskan rangkaian temuan ini menjadi peringatan serius tentang bahaya radikalisasi dan normalisasi kekerasan di ruang digital, khususnya yang menyasar anak-anak dan remaja. Aparat menilai pencegahan dini, pengawasan konten daring, serta peran aktif keluarga dan sekolah menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai paparan ideologi ekstrem sebelum berujung pada tragedi nyata.


***
Tim Redaksi.