Queensha.id - Edukasi Sosial,
Keturunan Tionghoa kerap dikenal piawai dalam mengelola uang dan membangun bisnis. Dari usaha kecil di gang sempit hingga perusahaan raksasa bertaraf global, banyak kisah sukses lahir dari komunitas ini. Nama Jack Ma, pendiri Alibaba, menjadi contoh paling populer bagaimana bisnis yang dimulai dari nol bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat pola hidup dan prinsip keuangan yang telah mengakar lintas generasi. Bukan sekadar soal bakat berdagang, melainkan kebiasaan disiplin yang dijalani secara konsisten sejak dini.
1. Menabung Didahulukan, Bukan Sisa
Salah satu prinsip utama yang banyak dianut keluarga Tionghoa adalah memprioritaskan tabungan. Menabung dilakukan di awal, bukan menunggu sisa pengeluaran. Bahkan, dalam banyak keluarga, menyisihkan hingga setengah pendapatan bulanan dianggap hal wajar.
Prinsip ini menanamkan disiplin finansial sejak dini yaitu pengeluaran harus menyesuaikan pendapatan, bukan sebaliknya. Dengan cara ini, kestabilan keuangan menjadi fondasi sebelum memikirkan gaya hidup.
2. Hidup Sederhana, Fokus Jangka Panjang
Di tengah budaya konsumtif yang semakin kuat, gaya hidup sederhana masih menjadi ciri khas banyak keluarga Tionghoa. Kemewahan bukan prioritas utama, apalagi jika hanya demi gengsi sosial.
Alih-alih menghabiskan uang untuk simbol status, mereka lebih memilih menyimpannya atau mengalihkan dana tersebut ke aset produktif. Prinsipnya sederhana yaitu keamanan finansial jangka panjang lebih penting daripada kepuasan sesaat.
3. Menabung Saja Tidak Cukup, Harus Berinvestasi
Selain menabung, investasi menjadi langkah lanjutan yang tak terpisahkan. Kesadaran bahwa uang harus “bekerja” telah tertanam kuat. Bentuk investasinya beragam, mulai dari membuka usaha, membeli properti, hingga menempatkan dana pada instrumen keuangan sesuai tujuan masing-masing.
Pendekatan ini membuat kekayaan tidak stagnan, melainkan terus bertumbuh seiring waktu.
4. Menjauhi Utang Konsumtif
Utang bukan hal yang tabu, tetapi utang konsumtif sebisa mungkin dihindari. Prinsipnya jelas: berutang hanya untuk hal produktif yang berpotensi menghasilkan nilai tambah, bukan untuk memenuhi gaya hidup.
Kebiasaan ini membantu menjaga arus kas tetap sehat dan menghindarkan dari tekanan finansial jangka panjang.
5. Etos Kerja Tinggi Sejak Dini
Keuletan dan kerja keras menjadi nilai yang hampir selalu diasosiasikan dengan komunitas Tionghoa. Sejak muda, banyak dari mereka telah dikenalkan pada dunia usaha, khususnya berdagang.
Menariknya, fokus mereka bukan semata pada besarnya keuntungan, melainkan seberapa cepat perputaran uang. Prinsip ini membuat bisnis tetap hidup, fleksibel, dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.
6. Bukan Soal Etnis, Tapi Disiplin
Kesuksesan finansial yang sering dilekatkan pada keturunan Tionghoa sejatinya bukan semata soal latar belakang etnis. Lebih dari itu, ia lahir dari kebiasaan disiplin, kesabaran, dan konsistensi dalam mengelola uang serta bekerja keras.
Di tengah tantangan ekonomi saat ini, pola hidup dan prinsip keuangan tersebut menjadi pelajaran berharga yang relevan bagi siapa pun. Karena pada akhirnya, keberhasilan finansial bukan soal dari mana seseorang berasal, melainkan bagaimana ia membangun kebiasaan dan memegang prinsip dalam hidupnya.
***
Tim Redaksi.