Notification

×

Iklan

Iklan

Cara Iblis Berkembang Biak: Ancaman Nyata yang Mengintai Manusia Tanpa Disadari

Selasa, 20 Januari 2026 | 09.49 WIB Last Updated 2026-01-20T02:50:20Z
Foto, ilustrasi gambaran rupa dan bentuk Iblis dan berbagai macam jenisnya. 


Queensha.id — Edukasi Islam,


Iblis bukan sekadar makhluk pembangkang yang terusir dari rahmat Allah. Ia adalah musuh abadi manusia yang tidak pernah berhenti bekerja sejak hari pertama kejatuhannya. Ketika diusir karena kesombongan, Iblis tidak memohon ampunan. Ia justru meminta penangguhan waktu hingga hari kebangkitan dan permintaan itu dikabulkan sebagai bagian dari ujian bagi manusia.


Al-Qur’an dengan tegas menyebut bahwa Iblis tidak sendirian. Ia memiliki keturunan dan bala tentara yang bekerja sistematis, terorganisir, dan terus berkembang.


Iblis dan Keturunannya: Fakta Akidah, Bukan Dongeng

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 50 bahwa Iblis dan keturunannya adalah musuh nyata bagi manusia. Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa Iblis memang berkembang biak. Para ulama sepakat, Iblis berasal dari golongan jin, dan jin itu sebagaimana makhluk hidup lainnya yang memiliki cara berkembang biak, meski prosesnya bersifat ghaib dan tidak dapat dijangkau nalar manusia.


Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak merinci mekanisme biologis jin karena hal itu tidak relevan dengan tujuan wahyu. Yang ditekankan adalah dampaknya: keberadaan mereka nyata dan pengaruhnya serius terhadap perilaku manusia.


Pandangan Ulama Indonesia: Iblis Bekerja Lewat Sistem

Ulama Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menegaskan bahwa bahaya Iblis bukan terletak pada jumlah keturunannya, tetapi pada kecerdasannya membaca kelemahan manusia. Menurutnya, Iblis jarang menggoda manusia dengan dosa besar di awal, tetapi memulainya dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.


“Iblis itu tidak frontal. Ia pintar membuat dosa terasa wajar dan taubat terasa berat,” ujar Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.


Sementara itu, dai nasional KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan bahwa Iblis berkembang bukan hanya lewat keturunan, tetapi melalui pengaruh. Ketika manusia menormalisasi kebohongan, kedengkian, dan maksiat, saat itulah manusia sedang memperpanjang ‘usia’ pengaruh Iblis di muka bumi.


Pasukan Iblis dan Pembagian Tugas

Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa Iblis memiliki singgasana dan bala tentara yang diutus dengan tugas khusus. Para ulama menjelaskan bahwa setiap setan memiliki spesialisasi: ada yang mengganggu shalat, merusak rumah tangga, menanamkan keraguan iman, membisikkan putus asa, bahkan menemani manusia di detik-detik sakaratul maut.


Menurut Buya Yahya, struktur kerja Iblis menunjukkan bahwa kejahatan tidak pernah bekerja secara acak. Ia terencana, sabar, dan konsisten. Karena itu, manusia juga dituntut memiliki kesadaran iman yang berkelanjutan, bukan semangat sesaat.


Cara Iblis “Memperbanyak Diri” Lewat Manusia

Selain berkembang biak secara hakikat, para ulama menyebut bahwa Iblis memperluas pengaruhnya dengan cara mewariskan dosa. Ketika maksiat diajarkan, ditiru, lalu dianggap biasa, maka satu dosa melahirkan dosa lain secara berantai.


Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa siapa pun yang mencontohkan keburukan akan menanggung dosa dirinya dan dosa orang yang mengikutinya. Dalam konteks ini, manusia bisa berubah menjadi “iblis kecil” ketika lisannya melukai, matanya menikmati yang haram, dan hatinya membenci kebenaran.


Mengapa Iblis Tidak Pernah Lelah?

Para ulama sepakat: karena Iblis tahu waktunya terbatas. Neraka telah menantinya, dan ia ingin sebanyak mungkin manusia menemaninya. Karena itu, target utamanya bukan menjadikan manusia kafir seketika, tetapi lalai sedikit demi sedikit.


Prof. Dr. Azyumardi Azra (alm.) pernah menyebut bahwa kejahatan paling berbahaya bukan yang tampak brutal, melainkan yang merusak kesadaran secara perlahan. Inilah metode klasik Iblis sepanjang zaman.


Perlindungan bagi Orang Beriman

Meski ancaman Iblis nyata, Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis tidak memiliki kuasa atas hamba-hamba Allah yang beriman dan bertawakal. Iman, shalat, dzikir, dan menjauhi maksiat adalah benteng utama yang diakui para ulama sebagai perlindungan paling efektif.
Iblis berkembang melalui kelalaian manusia. Namun kekuasaannya runtuh di hadapan hati yang dijaga Allah.


Iblis memang berkembang biak dengan keturunan, bisikan, dan dosa yang diwariskan. Namun Allah tidak membiarkan manusia tanpa perlindungan. Selama iman dijaga dan taubat dirawat, seluruh pasukan Iblis tidak akan mampu menembus jiwa yang bersandar kepada Allah.


Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya Iblis yang tampak maupun tersembunyi.


***
Tim Redaksi.