Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Bu Tejo ke Dunia Nyata: Gosip, Ghibah, dan Luka Sosial yang Sering Diremehkan

Selasa, 06 Januari 2026 | 13.21 WIB Last Updated 2026-01-06T09:49:07Z
Foto, Tangkapan layar Youtube Film Tilik.


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Film pendek Tilik pernah melahirkan satu karakter ikonik bernama Bu Tejo. Sosok ibu-ibu desa yang cerewet, penuh prasangka, dan gemar bergosip itu terasa begitu nyata karena memang hidup di sekitar kita. Banyak orang tertawa melihatnya di layar, namun tak sedikit yang kemudian tersadar: Bu Tejo bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan cermin sosial.


Di desa-desa, termasuk di wilayah Jepara, sosok serupa Bu Tejo kerap dijumpai. Seorang perempuan paruh baya yang menjadikan gosip bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari watak. Bahkan, dalam satu kisah nyata, kebiasaan bergosip itu berujung petaka yakni sang ibu dilabrak warga karena fitnah yang ia sebarkan. Ironisnya, kejadian tersebut tak juga membuatnya jera.


Fenomena ini menegaskan satu hal: gosip bukan sekadar obrolan ringan, melainkan persoalan moral dan sosial yang serius.


Pandangan Islam: Gosip adalah Ghibah, Dosanya Nyata

Dalam Islam, gosip dikenal dengan istilah ghibah, dan larangannya sangat tegas. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim menjelaskan:


“Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu sesuatu yang dia benci.”
Jika yang dibicarakan itu benar, maka itu ghibah. Jika tidak benar, maka itu fitnah.


Al-Qur’an bahkan menggunakan perumpamaan yang sangat keras. Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT menyamakan ghibah dengan memakan daging bangkai saudara sendiri merupakan sebuah gambaran menjijikkan untuk menggambarkan betapa berat dosanya.


Islam memandang gosip bukan hanya melukai orang lain, tetapi juga merusak jiwa pelakunya. Apalagi jika gosip disertai penyakit hati seperti iri, dengki, dan hasad. Saat itulah gosip berubah menjadi senjata untuk menjatuhkan martabat orang lain.


Pandangan Sosial: Racun dalam Harmoni Desa

Pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai kebiasaan bergosip di lingkungan desa sering kali dianggap wajar karena dibungkus kedekatan sosial. Namun justru di situlah bahayanya.


“Gosip di masyarakat kecil itu efeknya jauh lebih besar. Sekali reputasi seseorang rusak, sangat sulit dipulihkan karena informasinya menyebar cepat dan dianggap kebenaran kolektif,” ujar Purnomo, Selasa (6/1/2025).


Menurutnya, gosip adalah bentuk kekerasan simbolik yang sering tak disadari. Tidak meninggalkan luka fisik, tetapi menghancurkan kepercayaan, relasi sosial, bahkan harga diri seseorang.


“Desa itu hidup dari kepercayaan. Kalau gosip dibiarkan, yang rusak bukan cuma individu, tapi kohesi sosial,” tambahnya.


Purnomo juga menekankan bahwa kebiasaan bergosip sering muncul ketika seseorang kehilangan ruang refleksi diri. Alih-alih memperbaiki kekurangan sendiri, energi justru dihabiskan untuk mengorek aib orang lain.


Antara Syukur dan Kufur

Islam menawarkan jalan keluar yang sederhana namun berat dijalankan: menjaga lisan, fokus memperbaiki diri, dan memperbanyak syukur. Dalam Surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT berjanji akan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur, dan menyiapkan azab bagi yang kufur.


Gosip sering kali lahir dari ketidaksyukuran yaitu merasa hidup orang lain lebih baik, lalu mencari celah untuk merendahkannya. Sebaliknya, orang yang sibuk bersyukur dan berbenah diri tak punya waktu untuk menggunjing.


Bu Tejo dalam film mungkin mengundang tawa. Namun Bu Tejo di dunia nyata adalah peringatan. Lidah memang tak bertulang, tetapi dampaknya bisa menghancurkan kehidupan orang lain.


Pada akhirnya, pilihan selalu ada di tangan kita yaitu menjaga lisan atau merusak relasi, memilih syukur atau terjebak dalam dosa yang terasa ringan tapi berat balasannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang memilih jalan yang membawa pada kebaikan dan pada jannah-Nya.


***
Tim Redaksi.