Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Radio ke Panggung Dunia: Jejak Panjang Pandji Pragiwaksono di Seni, Kritik, dan Kebebasan Berekspresi

Senin, 12 Januari 2026 | 23.42 WIB Last Updated 2026-01-12T16:43:54Z
Foto, Pandji Pragiwaksono saat stand up komedi (Mens Rea).


Queensha.id - Entertainment,


Pandji Pragiwaksono bukan sekadar nama besar di dunia hiburan Indonesia. Ia adalah figur lintas disiplin mulai dari komika, musisi, presenter, sekaligus pemikir publik yang perjalanan hidup dan kariernya kerap bersinggungan dengan isu kebangsaan, kritik sosial, hingga batas kebebasan berekspresi di ruang publik.
Akar Keluarga dan Latar Pendidikan
Pandji lahir di Singapura dari keluarga dengan latar budaya beragam. 


Ia berdarah Jawa dari sang ayah, Koes Pratomo Wongsoyudo, asal Kebumen, dan Sumatra dari jalur ibu, Siti Khadijah, yang lahir dan besar di Jakarta dengan akar keluarga dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. 


Sosok ayahnya dikenal sebagai karateka sekaligus pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) pada 1963 merupakan sebuah warisan disiplin dan keteguhan nilai yang kerap disebut membentuk karakter Pandji.


Pendidikan formalnya ditempuh di SMP Negeri 29 Jakarta, Kolese Gonzaga Jakarta, hingga akhirnya lulus dari Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Latar seni inilah yang menjadi fondasi kuat dalam seluruh karya dan pendekatan kreatifnya.


Awal Karier: Dari Radio ke Televisi

Karier Pandji bermula di dunia radio. Ia menjadi penyiar Hard Rock FM Bandung (2001–2003) bersama Tike Priatnakusumah, lalu melanjutkan kiprahnya di Hard Rock FM Jakarta selama tujuh tahun. Namanya mulai dikenal luas lewat kolaborasi dengan Steny Agustaf dan kehadirannya di layar kaca, termasuk sebagai pemain tetap acara Ngelenong Nyok (2005).


Popularitasnya melesat saat memandu reality show Kena Deh, disusul program Hole in the Wall dan berbagai acara lain. Ketertarikannya pada olahraga basket juga membawanya menjadi presenter siaran NBA di JakTV.


Ikon Stand Up Comedy Indonesia

Tonggak penting karier Pandji terjadi di dunia komedi tunggal. Sejak 2010, ia konsisten membangun panggung stand up comedy sebagai medium kritik sosial. Bersama Raditya Dika, Pandji turut menggagas lahirnya kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV—yang kemudian melahirkan banyak komika ternama.


Dari Bhinneka Tunggal Tawa (2011) hingga Komoidoumenoi (2022), Pandji dikenal berani mengangkat isu sensitif: politik, demokrasi, identitas, hingga budaya digital. Ia mencatat sejarah sebagai komika Indonesia yang menggelar pertunjukan tunggal di Istora Senayan, disaksikan ribuan penonton secara langsung dan daring.


Musik, Aktivisme, dan Panggung Dunia

Di luar komedi, Pandji aktif di dunia musik rap dan hiphop. Album-albumnya mulai seperti Merdesa dan 32 yang memadukan musik dengan gagasan kebangsaan. Ia juga dikenal sebagai komika Indonesia pertama yang melakukan tur dunia lintas benua, membawa isu Indonesia ke panggung internasional.


Figur Publik yang Kerap Menuai Kontroversi

Konsistensinya mengkritik realitas sosial menjadikan Pandji kerap berada di pusaran kontroversi. Namun bagi pendukungnya, Pandji adalah simbol seniman yang menggunakan kebebasan berekspresi secara sadar dan bertanggung jawab. Bagi pengkritiknya, sebagian materi dianggap melampaui batas etika publik. Di titik inilah, nama Pandji kerap menjadi bahan perdebatan tentang relasi antara seni, kritik, norma, dan hukum.



Lebih dari dua dekade berkarya, Pandji Pragiwaksono telah menjelma menjadi cermin dinamika kebebasan berekspresi di Indonesia. Dari radio, televisi, musik, hingga panggung stand up comedy dunia, ia terus menantang publik untuk berpikir, tertawa, sekaligus tidak nyaman merupakan sebuah ciri khas seniman yang tak ingin diam di zona aman.


***
Tim Redaksi.