Queensha.id - Jakarta,
Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya angkat bicara menanggapi polemik yang mengiringi special show terbarunya, Mens Rea, yang kini viral dan bertengger di posisi teratas tontonan Netflix Indonesia. Pandji menegaskan, pertunjukan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan tokoh atau politisi tertentu.
Pernyataan itu disampaikan Pandji melalui video terbaru di kanal YouTube pribadinya, menyusul anggapan sebagian pihak bahwa Mens Rea menyerang sejumlah nama politik nasional. Dalam materi komedinya, Pandji memang menyinggung figur-figur publik seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ahmad Sahroni, Bahlil Lahadalia, Natalius Pigai, Fadli Zon, hingga Teddy Minahasa.
“Mens Rea tidak didesain untuk menjatuhkan siapa-siapa, untuk mengubah yang di dunia politik pun enggak,” ujar Pandji, Senin (12/1/2026).
Mengubah Cara Berpikir, Bukan Menyerang Personal
Pandji menekankan bahwa tujuan utama Mens Rea justru terletak pada upaya mendorong publik yaitu khususnya rakyat sebagai pemilih agar lebih kritis dan sadar terhadap rekam jejak para pejabat publik.
“Tujuannya itu untuk mengubah rakyat. Dari mana? Dari memberikan rakyat Indonesia sebanyak-banyaknya informasi tentang apa yang pernah terjadi di Indonesia,” kata Pandji.
Menurutnya, kritik dalam bentuk komedi adalah pintu masuk untuk membuka diskusi dan rasa ingin tahu publik. Ia bahkan menyebut, setelah Mens Rea tayang di Netflix, banyak penonton yang mulai melakukan riset mandiri terkait nama-nama dan peristiwa yang disebut dalam pertunjukan.
“Banyak orang setelah nonton di Netflix, dia buka Google untuk nyari tahu referensi siapa nama ini, apa yang dilakukan,” ungkapnya.
“Jadi banyak yang baru tahu kejadian-kejadian tersebut, termasuk Teddy Minahasa,” tambah Pandji.
Alasan Tak Bahas Anies Baswedan
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul dari publik adalah absennya nama Anies Baswedan dalam Mens Rea. Pandji menjawabnya secara lugas. Menurut dia, Anies saat ini bukan pejabat publik yang digaji oleh negara.
“Saya hanya membahas pejabat publik yang digaji dari uang rakyat. Mereka yang menurut saya memang layak untuk dikritik,” jelas Pandji.
Di Antara Seni, Kritik, dan Kontroversi
Kontroversi Mens Rea menunjukkan kembali tipisnya batas antara seni, kritik sosial, dan sensitivitas politik di Indonesia. Di satu sisi, Pandji memandang komedi sebagai medium edukasi politik yang ringan namun mengena. Di sisi lain, materi tersebut memicu reaksi keras, bahkan berujung pada laporan hukum.
Namun bagi Pandji, perdebatan yang muncul justru menandakan satu hal: publik mulai terlibat, bertanya, dan berpikir. Dan itulah, menurutnya, esensi utama dari Mens Rea yang bukan menjatuhkan individu, melainkan mengusik kesadaran bersama.
***
Tim Redaksi.