Queensha.id - Edukasi Islam,
Nabi Isa عليه السلام menempati posisi agung dalam Islam. Ia adalah salah satu nabi besar Allah ﷻ yang diutus khusus kepada Bani Israil untuk meluruskan penyimpangan Taurat dan mengembalikan umat kepada ajaran tauhid yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa. Namun sejarah mencatat, ajaran murni itu tidak bertahan lama. Sepeninggal Nabi Isa, penyimpangan demi penyimpangan justru tumbuh dan mengakar.
Misi Asli Nabi Isa: Meluruskan, Bukan Mengubah
Islam menegaskan bahwa Nabi Isa tidak datang membawa agama baru. Misinya jelas yaitu:
Menyeru penyembahan hanya kepada Allah, menegakkan syariat, membersihkan agama dari kepalsuan, serta mengabarkan kedatangan Nabi terakhir, Muhammad ﷺ.
Al-Qur’an menegaskan posisi Nabi Isa secara gamblang yaitu:
“Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam hanyalah seorang Rasul Allah.”
(QS. An-Nisa: 171)
Ayat ini menutup rapat ruang pengultusan. Isa adalah rasul, bukan Tuhan, bukan pula anak Tuhan.
Setelah Isa Diangkat: Awal Retaknya Ajaran
Islam meyakini Nabi Isa tidak disalib dan tidak dibunuh. Allah ﷻ menyelamatkannya dan mengangkatnya ke langit.
“Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka.”
(QS. An-Nisa: 157)
Namun justru setelah Isa tidak lagi bersama kaumnya, perpecahan dimulai. Ajaran tauhid perlahan berubah, sedikit demi sedikit, hingga wajah aslinya memudar.
Paulus dan Titik Balik Sejarah
Sejarah mencatat munculnya tokoh bernama Paulus, sosok yang tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Isa. Dari sinilah perubahan besar terjadi. Paulus membawa gagasan-gagasan baru: penghapusan sebagian hukum syariat, konsep keselamatan cukup dengan iman, dan secara bertahap mengangkat Isa ke derajat ketuhanan.
Ajaran ini kemudian lebih dominan dibanding ajaran murid-murid Nabi Isa yang masih berpegang pada tauhid. Sejak saat itu, arah agama pun berbelok.
Trinitas: Doktrin yang Ditolak Islam
Dari perubahan inilah lahir keyakinan bahwa Isa adalah “anak Tuhan” dan Tuhan terdiri dari tiga unsur (Trinitas). Islam menolak keras konsep ini.
“Sungguh kafirlah orang-orang yang berkata: Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam.”
(QS. Al-Ma’idah: 72)
Dan peringatan tegas lainnya:
“Janganlah kamu mengatakan (Tuhan itu) tiga.”
(QS. An-Nisa: 171)
Bagi Islam, tauhid adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.
Syariat Ditinggalkan, Otoritas Berpindah
Syariat yang dibawa Nabi Isa pun perlahan dihapus. Hukum makanan diubah, ibadah disederhanakan tanpa landasan wahyu, dan hukum duniawi diganti keputusan lembaga gereja.
Padahal Nabi Isa sendiri menegaskan:
“Dan aku menghalalkan bagimu sebagian yang sebelumnya diharamkan.”
(QS. Ali ‘Imran: 50)
Sebagian, bukan seluruhnya. Ini menunjukkan syariat tidak pernah dihapus total.
Puncak Penyimpangan: Isa Disembah
Penyimpangan paling besar adalah menjadikan Nabi Isa sebagai sesembahan. Al-Qur’an menggambarkan dialog menggetarkan di hari kiamat, ketika Allah ﷻ bertanya kepada Isa yaitu
“Apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikan aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah?”
(QS. Al-Ma’idah: 116)
Nabi Isa dengan tegas menyatakan tidak pernah mengajarkan hal itu. Sebuah penegasan bahwa pengultusan tersebut bukan berasal darinya.
Pandangan Islam: Kebenaran yang Akan Diluruskan
Islam menegaskan beberapa hal pokok: Nabi Isa adalah hamba dan rasul Allah, Injil asli adalah wahyu, ajaran tauhidnya telah diselewengkan, dan kebenaran itu akan diluruskan kembali saat Nabi Isa turun di akhir zaman.
“Sesungguhnya Isa benar-benar menjadi tanda datangnya hari kiamat.”
(QS. Az-Zukhruf: 61)
Hikmah di Balik Sejarah Panjang
Sejarah Nabi Isa memberi pelajaran besar: penyimpangan muncul ketika wahyu ditinggalkan, pengagungan berlebihan terhadap nabi bisa menjerumuskan, dan cinta yang tidak dibingkai tauhid justru melahirkan kesesatan. Namun satu hal pasti, menurut Islam, kebenaran tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup, lalu akan kembali terang.
***
Tim Redaksi.