Queensha.id - Edukasi Islam,
Tak ada suara tangisan. Tak ada lagi langkah kaki. Saat liang lahat tertutup dan manusia kembali ke dunia masing-masing, sebuah dialog yang tak pernah kita dengar semasa hidup pun dimulai. Dialog di alam kubur merupakan fase yang pasti akan dialami setiap insan, cepat atau lambat.
Dalam keyakinan Islam, kubur bukan sekadar tempat jasad berbaring. Ia adalah awal perjalanan panjang menuju keabadian. Di sanalah, manusia pertama kali merasakan balasan dari apa yang selama ini ia tanam di dunia.
“Siapa kamu?”
Begitulah pertanyaan pertama yang digambarkan datang dari kubur. Bukan soal nama atau identitas, melainkan tentang siapa diri kita sebenarnya yang tercermin dari iman dan amal.
Kubur, dalam narasi keimanan, berbicara tegas: ia bisa menjadi tempat yang lapang dan menenangkan, atau sebaliknya, sempit dan menekan. Jawabannya tidak ditentukan oleh status, harta, atau pujian manusia, melainkan oleh enam perkara yang selama hidup sering kita anggap sepele.
Enam Amal yang Menjadi Jawaban di Alam Kubur
Pertama, shalat.
Shalat yang dijaga dengan konsisten akan tampil sebagai saksi ketaatan. Ia berbicara lantang membela pemiliknya. Namun shalat yang ditinggalkan atau disepelekan, tak memiliki suara untuk menolong.
Kedua, Al-Qur’an.
Al-Qur’an yang dibaca, dihayati, dan diamalkan menjadi sahabat setia. Ia berdiri di sisi pengamalnya. Sebaliknya, mushaf yang berdebu dan ayat yang asing di lisan, meninggalkan kesunyian di alam kubur.
Ketiga, sedekah.
Bukan besar kecilnya nominal, melainkan keikhlasan yang menjadi nilai. Sedekah yang tulus berubah menjadi tameng, melindungi dari tekanan kubur yang menyakitkan.
Keempat, akhlak.
Ia tak banyak bicara, namun paling berat timbangannya. Kejujuran, kesabaran, dan kemampuan menahan diri dari menyakiti orang lain sering menjadi penyelamat yang tak disangka.
Kelima, istighfar.
Dosa yang disesali dan dimintakan ampunan di dunia, tak lagi ditagih di kubur. Satu istighfar yang jujur bisa lebih bernilai daripada ribuan amal yang dilakukan tanpa keikhlasan.
Keenam, doa manusia lain.
Hak sesama manusia tak bisa dihapus begitu saja. Mereka yang disakiti akan menjadi penagih. Namun ridho dan doa orang-orang yang pernah kita bantu, hormati, dan bahagiakan, menjelma menjadi cahaya di alam kubur.
Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia
Para ulama besar di Indonesia menegaskan bahwa alam kubur adalah perkara akidah yang wajib diyakini, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih.
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) kerap mengingatkan bahwa kesalehan ritual harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial.
Menurutnya, banyak orang rajin ibadah, tetapi lupa menjaga lisan dan perasaan orang lain, padahal urusan sesama manusia justru sangat menentukan di akhirat.
Sementara itu, Buya Yahya menegaskan bahwa siksa kubur bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti, melainkan peringatan agar manusia hidup dengan tanggung jawab.
Ia menekankan pentingnya taubat, menjaga shalat, dan menyelesaikan urusan dengan sesama sebelum kematian datang.
Dari kalangan Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas (alm.) pernah menjelaskan bahwa iman yang benar harus melahirkan amal nyata.
Menurutnya, amal saleh bukan hanya ibadah mahdhah, tetapi juga kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial yang semua itu akan dipertanggungjawabkan sejak di alam kubur.
Pandangan para ulama ini satu suara yaitu kubur tidak menakutkan bagi orang yang mempersiapkan diri. Yang berbahaya adalah menunda taubat dan merasa aman dari kematian.
Antara Takut dan Harap
Kubur bukan akhir, melainkan awal.
Bukan tempat balas dendam, tetapi tempat keadilan mulai ditegakkan.
Yang seharusnya membuat kita takut bukanlah cerita tentang kubur, melainkan kenyataan bahwa kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal kematian tidak pernah membuat janji.
Hari ini kita membaca.
Besok, bisa jadi kitalah yang menjadi ceritanya.
Maka sebelum dialog itu benar-benar terjadi, pertanyaannya kini ada pada kita:
amal apa yang sudah kita siapkan untuk menjawab?
***
Tim Redaksi.