Queensha.id - Edukasi Islam,
Ada satu fase dalam sejarah kenabian yang menjadi potret paling jujur tentang luka, keteguhan, dan kasih sayang tanpa syarat. Perjalanan Rasulullah SAW ke Thaif bukan sekadar episode dakwah yang gagal, melainkan ujian kemanusiaan paling berat yang dijalani Nabi Muhammad SAW.
Tahun itu kelak dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn atau Tahun Kesedihan. Istri tercinta beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha, telah wafat. Tak lama berselang, Abu Thalib, pelindung dan penopang dakwahnya, juga meninggal dunia.
Dalam kondisi kehilangan dan tekanan batin, Rasulullah SAW tetap memilih melangkah yang menuju Thaif, sebuah kota subur di perbukitan, dengan satu harapan: mungkin masih ada hati yang terbuka pada kebenaran.
Dakwah yang Dibalas Luka
Dengan tutur kata lembut dan penuh adab, Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah tauhid kepada para pemuka Thaif. Namun yang datang bukan penerimaan, melainkan cemoohan, penghinaan, dan penolakan kasar.
Penolakan itu tak berhenti pada kata-kata. Penduduk Thaif menghasut anak-anak dan para budak untuk mengusir beliau. Batu-batu beterbangan. Tubuh manusia paling mulia itu terluka. Kaki beliau berdarah, sandal dipenuhi cairan merah, sementara beliau terus berjalan tertatih, berusaha menjauh dari amukan massa.
Hingga akhirnya, dalam kondisi lemah dan terluka, Rasulullah SAW berlindung di sebuah kebun anggur. Di sanalah beliau duduk bersandar, bukan untuk mengutuk, tetapi mengadu kepada Allah.
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia…”
Doa itu bukan jeritan amarah, melainkan pengakuan total seorang hamba kepada Tuhannya.
Kesempatan Membalas, Tapi Dipilih untuk Memaafkan
Langit seolah terdiam menyaksikan peristiwa itu. Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung dan menawarkan sesuatu yang tak pernah ditawarkan kepada manusia biasa.
“Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kami timpakan dua gunung ini kepada penduduk Thaif.”
Satu kata. Satu isyarat. Dan kota itu akan lenyap.
Namun Rasulullah SAW yang tubuhnya baru saja dilukai dan menjawab dengan kasih sayang yang melampaui logika balas dendam.
“Jangan. Aku berharap semoga dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”
Tidak ada kutukan.
Tidak ada dendam.
Yang ada hanya doa dan harapan hidayah.
Waktu Membuktikan Kebenaran Akhlak Nabi
Tahun-tahun berlalu. Sejarah bergerak. Dan doa itu tak pernah sia-sia. Thaif akhirnya menerima Islam. Orang-orang yang dahulu mengusir dan melempari Rasulullah SAW atau anak cucu mereka kelak bersujud kepada Allah.
Apa yang gagal dicapai dengan kekuatan, berhasil diraih dengan kesabaran.
Pelajaran Abadi dari Thaif
Kisah Thaif menyimpan hikmah besar bagi umat manusia:
1. Dakwah sejati lahir dari kesabaran, bukan kemarahan.
2. Kekuatan Rasulullah SAW terletak pada maaf, bukan balasan.
3. Ketika hati terluka oleh manusia, jangan pernah berhenti berharap kepada Allah.
Thaif mengajarkan satu hal penting: luka yang dibalas doa akan melahirkan hidayah, bukan kehancuran.
***
Tim Redaksi.