| Foto, kolase. Banjir di wilayah kabupaten Jepara, salah satunya di Desa Pringtulis, kecamatan Nalumsari, Jepara yang wilayah tersebut diduga ada lokasi galian ilegal yang mengakibatkan kerusakan alam. |
Queensha.id - Jepara,
Banjir yang kerap melanda Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, memantik kegeraman warga. Aktivitas pertambangan yang dinilai tak terkendali kini disorot sebagai salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan dan meningkatnya risiko bencana di wilayah tersebut.
Salah seorang warga Pringtulis berinisial K secara terbuka menyebut banjir bukan semata-mata bencana alam, melainkan dampak dari ulah manusia.
Ia menuding adanya praktik pertambangan yang dilakukan secara serampangan oleh pihak-pihak berkepentingan yang hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan keselamatan warga.
“Ini bukan banjir biasa. Ini akibat ulah para oligarki perusak alam. Pemerintah Kabupaten Jepara dan aparat harus berani menindak galian-galian tambang yang tidak bertanggung jawab,” tegas K.
Menurut warga, aktivitas tambang di sekitar wilayah Pringtulis telah mengubah kontur tanah, merusak daerah resapan air, serta memperparah sedimentasi sungai. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air tak lagi tertahan dan akhirnya meluap ke permukiman.
K menilai, selama ini pemerintah terkesan lamban dan menutup mata terhadap dugaan tambang ilegal. Padahal, dampak kerusakan lingkungan sudah dirasakan langsung oleh masyarakat dalam bentuk banjir, jalan rusak, hingga ancaman longsor.
“Kalau dibiarkan terus, banjir akan jadi langganan. Yang untung hanya segelintir orang, yang menanggung risiko kami, warga kecil,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).
Secara terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengakui bahwa pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dapat memicu bencana alam, seperti longsor dan banjir.
Ia menegaskan pentingnya pengawasan ketat dan penerapan prinsip pertambangan yang ramah lingkungan.
Pernyataan tersebut menjadi penguat tuntutan warga Pringtulis agar pemerintah daerah tidak ragu menertibkan aktivitas tambang yang merusak. Warga mendesak adanya audit lingkungan serta penegakan hukum yang tegas, tanpa pandang bulu.
Kini, banjir di Pringtulis bukan sekadar genangan air, melainkan simbol kegelisahan warga terhadap tata kelola sumber daya alam yang dinilai timpang. Di tengah ancaman bencana yang terus mengintai, warga menunggu keberanian negara untuk berpihak pada keselamatan lingkungan dan kehidupan masyarakat, bukan pada kepentingan segelintir pemodal.
***
Wartawan: Yd.
Tim Redaksi.