Queensha.id — Berita Cuaca Nasional,
Hujan yang nyaris turun tanpa jeda di berbagai wilayah Indonesia bukan sekadar gangguan aktivitas harian. Intensitas curah hujan yang tinggi ini menjadi sinyal serius meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir hingga tanah longsor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa musim hujan 2025/2026 belum akan berakhir dalam waktu dekat. Berdasarkan prediksi resmi, periode basah yang telah berlangsung sejak Agustus 2025 diperkirakan baru akan mereda pada April 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penyebab tingginya intensitas hujan adalah fenomena La Niña lemah, yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer Indonesia. Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih masif dan bertahan lama.
“Dampaknya, puncak musim hujan di sejumlah wilayah datang lebih awal, sementara wilayah lainnya justru baru mencapai puncak pada awal 2026,” ujar Faisal dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhir Desember lalu.
Januari 2026, Enam Wilayah Masuki Puncak Musim Hujan
Memasuki Januari 2026, BMKG mencatat sedikitnya enam kawasan besar Indonesia berada dalam fase puncak musim penghujan dengan intensitas tertinggi.
Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
2. Seluruh Pulau Jawa, dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur berpotensi diguyur hujan lebat hingga Maret 2026.
3. Pulau Bali, yang berisiko hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
4. Nusa Tenggara Barat dan Timur, dengan curah hujan signifikan.
5. Papua Bagian Selatan, sementara wilayah Papua lainnya berpotensi hujan sepanjang tahun.
Sebagian Sulawesi Selatan, dengan potensi curah hujan ekstrem lebih dari 500 milimeter per bulan pada Februari 2026.
Ironisnya, kondisi berbeda justru terjadi di wilayah pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan sebagian Jambi. Daerah-daerah ini mulai memasuki musim kemarau lebih awal karena berada di jalur khatulistiwa yang mengalami dua kali pergantian musim dalam setahun.
Ancaman Serius Bencana Hidrometeorologi
BMKG mengeluarkan peringatan keras terkait potensi bencana. Sebanyak 193 Zona Musim atau sekitar 27,6 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di atas normal.
Kondisi tersebut berpotensi memicu:
1. Banjir dan banjir bandang.
2. Tanah longsor.
3. Genangan air luas.
4. Angin kencang yang dapat merobohkan pohon dan bangunan ringan.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa 94,7 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan tahunan kategori normal sepanjang 2026, berkisar antara 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.
Sementara 5,1 persen wilayah lainnya diprediksi berada pada kategori di atas normal, termasuk sebagian Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Suhu Udara dan Pola Wilayah
Rata-rata suhu udara nasional diperkirakan berada di kisaran 25–29 derajat Celsius. Daerah dataran rendah seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Tengah, pesisir utara Jawa, serta Papua Selatan akan terasa lebih panas dengan suhu di atas 28 derajat.
Sebaliknya, kawasan pegunungan seperti Bukit Barisan, Pegunungan Latimojong, dan Pegunungan Jaya Wijaya diperkirakan lebih sejuk dengan suhu antara 19 hingga 22 derajat Celsius.
BMKG Imbau Warga Aktif Pantau Cuaca
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan terus memantau informasi cuaca terkini, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana.
Pemantauan dapat dilakukan melalui:
1. Situs resmi BMKG di cuaca.bmkg.go.id .
2. Aplikasi Info BMKG yang menyediakan prakiraan cuaca real-time serta peringatan dini cuaca ekstrem.
3. Dengan kesiapsiagaan dan akses informasi yang akurat, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini guna meminimalkan risiko selama musim hujan masih berlangsung.
***
Tim Redaksi.