Notification

×

Iklan

Iklan

Membaca Jejak Zaman Tanpa Saksi, Begini Cara Arkeolog Mengungkap Misteri Ribuan Tahun Lalu

Senin, 19 Januari 2026 | 12.02 WIB Last Updated 2026-01-19T05:09:10Z
Foto, seorang peneliti benda purbakala dan manusia purba.


Queensha id — Jakarta,


Bagaimana manusia modern bisa mengetahui apa yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tanpa satu pun saksi hidup? Jawabannya terletak pada kerja sunyi para arkeolog yang menafsirkan masa lalu melalui benda-benda purbakala dengan metode ilmiah yang ketat dan terukur.


Melalui proses penggalian sistematis atau ekskavasi, analisis artefak, hingga pembacaan lapisan tanah, arkeolog mampu merekonstruksi peristiwa, kebudayaan, dan teknologi masyarakat kuno secara ilmiah yang bukan sekadar dugaan.


Menentukan Umur: Dari Lapisan Tanah hingga Karbon

Dalam menafsirkan usia benda purbakala, arkeolog menggunakan dua pendekatan utama.


Pertama, pentarikhan relatif, yakni menentukan umur berdasarkan posisi benda dalam lapisan tanah atau stratigrafi. Prinsipnya sederhana namun kuat: semakin dalam sebuah benda ditemukan, semakin tua usianya.


Kedua, pentarikhan absolut, yang mampu menunjukkan usia benda secara lebih presisi dalam satuan tahun. Metode paling dikenal adalah radiocarbon dating (C-14), yang mengukur peluruhan karbon pada material organik seperti tulang, kayu, atau arang.


Artefak Tak Pernah Berdiri Sendiri

Arkeolog tidak hanya memeriksa bentuk fisik benda, tetapi juga konteks penemuannya. Analisis tipologi digunakan untuk mengelompokkan artefak berdasarkan bentuk, bahan, dan gaya, lalu membandingkannya dengan temuan lain yang sudah diketahui periodisasinya.


Sementara itu, analisis konteks melihat hubungan antar benda dalam satu situs. Dari susunan alat, sisa makanan, hingga bekas bangunan, peneliti dapat membaca pola aktivitas manusia masa lalu di mulai dari cara memasak, berburu, hingga ritual keagamaan.


Ilmu Pendukung Membuka Tabir Sejarah

Untuk memperkuat tafsir, arkeologi juga didukung berbagai disiplin lain. Dendrokronologi membaca lingkaran tahun pada kayu untuk menentukan umur secara sangat akurat. Arkeologi eksperimental mencoba mereplikasi alat kuno guna memahami fungsi dan teknik pembuatannya. Sementara analogi etnografi membandingkan temuan kuno dengan praktik budaya tradisional yang masih hidup hingga kini.


Jika temuan berasal dari periode yang lebih dekat, seperti 100–200 tahun lalu, data arkeologi kerap dipadukan dengan arsip tertulis, peta lama, foto, hingga catatan kolonial untuk memperkuat validitas sejarah.


Pernyataan Peneliti Terkemuka

Arkeolog senior Indonesia, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, menegaskan bahwa arkeologi bukan sekadar menggali benda tua, melainkan membaca peradaban manusia secara utuh.


“Artefak itu tidak pernah bicara sendiri. Yang membuatnya ‘hidup’ adalah konteks, lapisan tanah, dan hubungan antar temuan. Tanpa metode ilmiah, benda purbakala hanya akan menjadi barang antik tanpa makna sejarah,” ujar Prof. Harry dalam salah satu forum ilmiah kebudayaan nasional.


Ia menambahkan, arkeologi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran identitas bangsa.


“Dari benda-benda itulah kita belajar bagaimana leluhur berpikir, beradaptasi, dan membangun peradaban. Arkeologi adalah cermin panjang perjalanan manusia,” tegasnya.


Menjembatani Masa Lalu dan Masa Kini

Melalui kombinasi metode ilmiah dan pendekatan multidisipliner, arkeolog mampu menghadirkan kembali potongan-potongan kehidupan masa lampau yang telah lama terkubur. Tanpa saksi mata, tanpa suara, namun tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


Di balik setiap pecahan gerabah, alat batu, atau sisa bangunan kuno, tersimpan kisah panjang manusia yang kini kembali dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan untuk generasi masa depan.


***
Tim Redaksi.