Queensha.id — Edukasi Sosial,
Rumah tangga sering dianggap urusan privat. Namun dalam pandangan Islam, ia adalah benteng peradaban. Ketika rumah tangga runtuh, bukan hanya dua insan yang terluka, tetapi anak-anak, masyarakat, bahkan masa depan generasi ikut terancam.
Karena itulah, rumah tangga menjadi target utama iblis.
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa singgasana iblis berada di atas air, dan misi paling dibanggakannya bukan zina, bukan mabuk, melainkan memisahkan suami dan istri. Sebab perceraian adalah pintu bagi kerusakan yang lebih luas.
Strategi Iblis: Menghancurkan dari Dalam
Berbeda dengan dosa-dosa besar yang tampak nyata, kehancuran rumah tangga dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan.
Iblis menanam benih ketidakpuasan, membesarkan emosi, menjauhkan ibadah, menghadirkan pihak ketiga, lalu membungkus perceraian dengan dalih “demi kebahagiaan”.
Semua tampak manusiawi. Semua terasa masuk akal. Padahal itulah jebakan paling halus.
Pandangan Ulama Indonesia: Kerusakan Dimulai Saat Allah Disingkirkan
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) berulang kali menegaskan bahwa konflik rumah tangga bukan berawal dari kurangnya cinta, melainkan hilangnya taqwa dalam hubungan.
“Ketika suami istri tidak lagi menjadikan Allah sebagai penengah, maka ego yang akan memimpin. Dan ego tidak pernah adil,” ujar Aa Gym dalam salah satu tausiyahnya.
Menurutnya, banyak pasangan rajin mencari solusi ke luar rumah—konselor, teman, media sosial—namun lupa kembali ke Allah melalui shalat dan muhasabah bersama.
Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah, menyebut perceraian sering terjadi bukan karena masalah besar, tetapi karena dosa kecil yang tidak segera ditutup dengan taubat.
“Chat yang disembunyikan, curhat kepada lawan jenis, meremehkan pasangan—itu semua pintu setan. Jangan tunggu zina, karena kehancuran sering datang sebelum itu,” tegas Buya Yahya.
Ia mengingatkan bahwa setan tidak memaksa, tetapi membiasakan, hingga yang haram terasa wajar.
Sementara itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menyoroti pentingnya komunikasi yang dilandasi akhlak, bukan emosi.
“Diam dalam marah bukan solusi jika diiringi kesombongan. Islam mengajarkan tabayyun dan saling memahami, bukan saling mengalahkan,” tulisnya dalam kajian tafsir keluarga sakinah.
Menurut Quraish Shihab, rumah tangga hancur saat pasangan lebih sibuk menuntut hak daripada menunaikan kewajiban.
Perceraian: Halal, Tapi Dibenci
Islam tidak menutup pintu talak. Namun Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai perkara halal yang paling dibenci Allah.
Para ulama sepakat:
Talak adalah jalan darurat, bukan solusi emosional. Ketika perceraian dijadikan pelarian tanpa rasa takut kepada Allah, di situlah iblis merayakan kemenangannya.
Benteng yang Terlupakan
Para ulama Indonesia sepakat bahwa benteng terkuat rumah tangga bukan harta, bukan romantisme, melainkan kehadiran Allah dalam keseharian:
1. Shalat berjamaah di rumah.
2. Doa bersama sebelum tidur.
3. Lisan yang dijaga saat marah.
4. Budaya saling meminta maaf.
5. Kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah akhirat.
Sebagaimana firman Allah, tipu daya setan sejatinya lemah. Namun ia menjadi kuat saat manusia lengah.
Jadi, setan tidak menghancurkan rumah tangga dengan teriakan, melainkan dengan bisikan. Tidak dengan dosa besar, tetapi dengan dosa kecil yang dianggap sepele.
Maka pertanyaannya bukan: siapa yang salah?
Melainkan, masihkah Allah menjadi pusat dalam rumah kita?
Karena ketika Allah hadir, iblis tak punya tempat tinggal.
***
Tim Redaksi.