Notification

×

Iklan

Iklan

Istri dan Anak Menuntut di Akhirat, Karena Nafkah Tak Lagi Cukup Menyelamatkan Ayah

Kamis, 15 Januari 2026 | 08.54 WIB Last Updated 2026-01-15T01:57:19Z
Foto, ilustrasi. Istri dan anak menuntut jalan menuju surganya Allah SWT.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Di Padang Mahsyar kelak, tidak ada ruang tawar-menawar. Jabatan runtuh, gelar hilang, dan harta tak bernilai. Yang tersisa hanyalah amal serta tanggung jawab yang dahulu sering dianggap sepele.


Seorang ayah berdiri gemetar. Ia merasa telah menunaikan kewajibannya di dunia yaitu bekerja keras, membanting tulang, memastikan dapur tetap mengepul. Namun di hadapan Allah, ukuran kebaikan ternyata jauh melampaui soal materi.


Firman Allah SWT menggema sebagai pengingat yang tak terbantahkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).


Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab seorang ayah tidak berhenti pada nafkah, tetapi juga pada keselamatan iman keluarganya.



Ketika Istri dan Anak Menjadi Penuntut

Dalam gambaran yang mengguncang kesadaran, sang istri maju ke hadapan Allah.


Ia tidak menuntut kekurangan harta, tetapi kelalaian arah. Nafkah memang diberi, namun tuntunan menuju Allah dibiarkan. Anak-anak pun bersuara, menyoal kebiasaan yang diwariskan: rajin mengejar dunia, lalai menegakkan shalat.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:

“Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Di titik inilah amal pribadi diuji. Ketika hak-hak yang dilalaikan harus dibayar, pahala pun berpindah tangan. Shalat malam, puasa sunnah, sedekah maka semuanya tak lagi utuh miliknya.


Para ulama Indonesia berulang kali menekankan bahwa kepemimpinan dalam keluarga adalah amanah besar, bukan simbol kuasa.


KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) kerap menegaskan bahwa ayah yang membiarkan keluarganya jauh dari shalat dan ilmu agama, meski rajin ibadah pribadi, sedang mempertaruhkan keselamatan amalnya sendiri. Menurutnya, “shalat yang paling berat hisabnya justru shalat yang tidak diwariskan kepada keluarga.”


Prof. Dr. Quraish Shihab dalam berbagai tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. At-Tahrim: 6 menuntut peran aktif. Menjaga keluarga dari api neraka bukan sekadar menasihati, tetapi memberi teladan, kesabaran, dan konsistensi. Keteladanan ayah, menurut beliau, adalah dakwah paling efektif di dalam rumah.


Sementara itu, Buya Yahya menekankan bahwa dosa terbesar seorang kepala keluarga bukanlah kemiskinan, melainkan pembiaran. “Jika anak tidak shalat, istri jauh dari agama, sementara ayah merasa cukup dengan kerja kerasnya, maka itulah kegagalan kepemimpinan,” ujarnya dalam salah satu pengajian.


Keluarga: Nikmat atau Gugatan

Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas:

“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah ujian.” (QS. Al-Anfal: 28).


Di dunia, keluarga adalah anugerah. Namun di akhirat, mereka bisa menjadi saksi yang membela atau penuntut yang paling jujur.


Pesan para ulama sejalan: jangan tunggu pengadilan akhirat untuk menyadari amanah. Selama anak masih bisa digandeng tangannya, selama istri masih bisa diajak bicara, pintu perbaikan masih terbuka.


Karena kelak, yang diharapkan bukan suara tuntutan:
“Ya Allah, tuntutlah ayah kami.”
Melainkan doa yang menyelamatkan:
“Ya Allah, ampuni dan selamatkan ayah kami.”


***
Tim Redaksi.