Queensha.id - Edukasi Islam,
Ada jeritan yang tak pernah tertangkap mikrofon, tak masuk telinga manusia, dan tak tercatat dalam sejarah. Namun jeritan itu diyakini menggetarkan langit dan mengguncang alam semesta. Itulah jeritan ruh, pada detik-detik paling menentukan dalam hidup manusia: sakaratul maut.
Al-Qur’an menegaskan momen ini sebagai kebenaran mutlak yang tak bisa ditawar.
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qāf: 19).
Kematian bukan ancaman, melainkan kepastian. Ia datang tepat waktu tanpa penundaan, tanpa kompromi, tanpa kesempatan meminta satu tarikan napas tambahan.
Sakaratul Maut: Detik Paling Jujur
Para ulama sepakat, sakaratul maut adalah detik paling jujur dalam kehidupan manusia. Seluruh topeng dunia runtuh. Jabatan, harta, dan nama besar tak lagi bernilai. Yang tersisa hanyalah iman, amal, dan penyesalan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (kepedihan).” (HR. Bukhari).
Jeritan ruh bukan selalu berupa suara. Ia adalah rasa sakit, ketakutan, dan kesadaran mendadak tentang kenyataan akhirat yang selama hidup sering diabaikan.
Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia
Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sakaratul maut bukan semata rasa sakit fisik, tetapi peralihan eksistensi dari alam dunia menuju alam akhirat.
Menurutnya, keguncangan ruh terjadi karena manusia tiba-tiba berhadapan dengan realitas yang selama ini hanya diyakini secara konseptual, bukan dialami.
Sementara itu, Buya Yahya kerap mengingatkan bahwa berat atau ringannya sakaratul maut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup seseorang. Orang yang terbiasa mengingat Allah, menjaga shalat, dan menjauhi maksiat akan dimudahkan.
Sebaliknya, kelalaian yang dipelihara bertahun-tahun akan menumpuk dan terasa menyesakkan di detik terakhir.
“Sakaratul maut itu bukan mendadak. Ia adalah panen dari kebiasaan hidup,” ujar Buya Yahya dalam salah satu pengajiannya.
Adapun KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menekankan bahwa sakaratul maut adalah momen ketika kejujuran iman diuji total. Menurut Gus Baha, orang yang selama hidupnya merasa aman dari dosa justru sering terkejut di akhir hayat, sementara mereka yang merasa hina dan terus bertaubat justru diberi ketenangan.
Perbedaan Akhir yang Menentukan
Dalam berbagai riwayat disebutkan, ruh orang beriman dicabut dengan lembut, seperti air yang mengalir dari bejana.
Meski tetap terasa sakit, Allah melapangkan jalannya. Wajahnya tenang, lisannya dimudahkan berdzikir, dan hatinya dipenuhi harap.
Sebaliknya, ruh orang yang lalai dan zalim dicabut dengan keras, seperti besi berduri yang ditarik dari wol basah. Ruh menolak keluar karena takut menghadapi apa yang menantinya. Jeritannya ada, namun tak terdengar oleh manusia.
Penyesalan yang Terlambat
Al-Qur’an menggambarkan jeritan paling tragis dari ruh yang terlambat sadar:
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat beramal saleh…” (QS. Al-Mu’minūn: 99).
Namun saat itu, pintu dunia telah tertutup rapat. Tak ada ulang waktu. Tak ada revisi hidup.
Doa dan Peringatan
Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk memohon pertolongan:
(Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.)
Para ulama Indonesia sepakat, kisah tentang sakaratul maut bukan untuk menakut-nakuti, melainkan membangunkan. Selama ruh masih di dalam jasad, masih ada waktu. Masih ada pintu taubat. Masih ada kesempatan memperbaiki arah hidup.
Karena sebelum ruh itu merintih saat dipisahkan, ia bisa ditenangkan yaitu dengan iman, taubat, dan amal yang ikhlas. Dan di situlah, menurut para ulama, taruhan hidup manusia yang sesungguhnya dimenangkan atau dikalahkan.
***
Tim Redaksi.