Notification

×

Iklan

Iklan

Kutu Rambut Pernah Merajalela, Kini Menghilang: Inilah Asal-usul, Cara Membasmi, hingga Mitos Keramas Penyebab Ketombe

Selasa, 13 Januari 2026 | 20.40 WIB Last Updated 2026-01-13T13:41:51Z
Foto, kutu rambut (hasil mikroskop elektron).


Queensha.id - Edukasi Kesehatan,


Ada masa ketika hampir setiap anak sekolah di Indonesia akrab dengan satu masalah klasik: kutu rambut. Di era 1980–1990-an, keberadaan kutu rambut begitu umum hingga kerap dianggap lumrah. Namun seiring perubahan gaya hidup, sanitasi, dan produk perawatan, kutu rambut kini terasa semakin langka. 


Lalu, dari mana sebenarnya kutu rambut berasal, bagaimana cara membasminya, dan benarkah terlalu sering keramas justru memicu ketombe?


Asal-usul Kutu Rambut: Tamu Lama Sejak Ribuan Tahun Lalu

Kutu rambut (Pediculus humanus capitis) bukanlah fenomena baru. Serangga kecil ini telah hidup berdampingan dengan manusia sejak ribuan tahun lalu. Para arkeolog bahkan menemukan telur kutu (nits) pada mumi Mesir kuno dan fosil rambut manusia purba.


Kutu rambut menyebar melalui kontak langsung antarkepala atau berbagi barang pribadi seperti sisir, handuk, bantal, hingga penutup kepala. Di masa lalu, kepadatan hunian, kebiasaan tidur bersama, serta keterbatasan akses air bersih dan produk kebersihan membuat kutu mudah berkembang biak, terutama pada anak-anak.


Mengapa Kutu Rambut Kini Semakin Langka?

Perubahan pola hidup menjadi faktor utama. Akses air bersih lebih baik, penggunaan sampo dan perawatan rambut rutin, serta meningkatnya kesadaran kebersihan membuat siklus hidup kutu terputus. 


Selain itu, gaya rambut yang lebih pendek dan penggunaan produk anti-kutu turut berperan menekan populasinya.


Namun, bukan berarti kutu rambut benar-benar punah. Kasus masih bisa ditemukan, terutama di lingkungan dengan kontak fisik intens atau kebiasaan berbagi barang pribadi.


Cara Efektif Membasmi Kutu Rambut

Jika kutu rambut kembali muncul, ada beberapa langkah yang terbukti efektif:



Pilih losion atau sampo yang mengandung permethrin atau bahan anti-parasit lain, digunakan sesuai petunjuk.


3. Sisir serit secara rutin.

Sisir bergigi rapat membantu mengangkat kutu dan telurnya dari rambut, terutama setelah keramas.


Cuci dan jemur barang pribadi
Sprei, sarung bantal, topi, dan handuk sebaiknya dicuci dengan air panas lalu dijemur di bawah matahari.

Hindari berbagi barang pribadi
Langkah pencegahan ini penting agar kutu tidak menyebar kembali.


Ulangi perawatan

Perawatan biasanya perlu diulang 7–10 hari untuk memastikan telur yang menetas ikut terbasmi.


Sering Keramas Malah Ketombean, Mitos atau Fakta?

Banyak orang mengira semakin sering keramas, semakin sehat kulit kepala. Faktanya, keramas terlalu sering dan terutama dengan sampo yang keras ini dapat menghilangkan minyak alami kulit kepala. 


Akibatnya, kulit kepala menjadi kering, iritasi, dan memicu ketombe.
Ketombe umumnya muncul karena ketidakseimbangan minyak, pertumbuhan jamur Malassezia, atau kulit kepala yang sensitif.


Solusi Mengatasi Ketombe Akibat Terlalu Sering Keramas

1. Kurangi frekuensi keramas
Idealnya 2–3 kali seminggu, tergantung jenis rambut dan aktivitas.

2. Gunakan sampo yang lembut
Pilih sampo bebas sulfat atau khusus kulit kepala sensitif.

3. Gunakan sampo anti-ketombe bila perlu
Kandungan seperti zinc pyrithione atau ketoconazole membantu mengontrol jamur penyebab ketombe.

4. Jangan menggaruk kulit kepala
Menggaruk justru memperparah iritasi dan memperbanyak serpihan ketombe.


Dari Kutu ke Ketombe, Soal Rambut Tak Pernah Sekadar Sepele

Perjalanan dari era kutu rambut hingga problem ketombe masa kini mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat. Rambut bukan sekadar mahkota, tetapi juga cermin kebersihan, kebiasaan, dan pengetahuan. Dengan perawatan yang tepat, masalah klasik maupun modern pada rambut bisa diatasi tanpa drama dan tanpa kutu kembali merajalela.

***
Tim Redaksi.