Notification

×

Iklan

Iklan

Memusuhi Ramadhan, Menjauh dari Syafaat Nabi: Peringatan Keras Ulama Indonesia Menjelang Hari Kiamat

Rabu, 21 Januari 2026 | 23.12 WIB Last Updated 2026-01-21T16:15:10Z
Foto, (Ramadhan Istimewa)


Queensha.id — Edukasi Islam,


Harapan terbesar umat Islam di hari kiamat kelak adalah memperoleh syafaat Rasulullah SAW. Namun para ulama mengingatkan, tidak semua orang yang mengaku umat Nabi otomatis berhak atas pertolongan itu. Ada golongan yang justru terancam terhalang dari syafaat, bukan karena kufur secara terang-terangan, melainkan karena memusuhi Ramadhan.


Pandangan ini sejalan dengan penjelasan sejumlah ulama terkemuka Indonesia yang menegaskan bahwa sikap seseorang terhadap Ramadhan adalah cermin keimanan dan indikator hubungannya dengan Rasulullah SAW.


Ramadhan dan Ukuran Cinta kepada Nabi

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah dalam berbagai pengajiannya menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan bulan yang dicintai Rasulullah ﷺ. Siapa yang menyambutnya dengan keluhan, kebencian, atau perlawanan batin, dinilai sedang bermasalah dengan perintah Allah dan sunnah Nabi.


“Orang beriman itu rindu Ramadhan. Kalau yang muncul justru kebencian dan kemarahan, itu tanda ada penyakit di dalam hati,” tegasnya dalam satu kajian Ramadhan.


Ulama sepakat, memusuhi Ramadhan bukan perkara sepele, karena berarti menolak salah satu sarana terbesar pengampunan dosa yang Allah sediakan bagi umat Muhammad SAW.


Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Bukan Lalai, Tapi Membangkang

Buya Yahya dalam berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa uzur syar’i bukan sekadar melakukan dosa kecil, melainkan bentuk pembangkangan terbuka terhadap perintah Allah.


“Puasa Ramadhan itu fondasi. Kalau dengan sadar ditinggalkan, maka runtuhlah bangunan taqwa,” ujar pengasuh LPD Al-Bahjah tersebut.


Pandangan ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa puasa Ramadhan yang ditinggalkan tanpa alasan tidak bisa ditebus meski dengan puasa seumur hidup.


Puasa Fisik, Dosa Tetap Jalan

Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) kerap mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi mengendalikan dosa. Puasa yang hanya menahan makan dan minum, namun lisan, mata, dan perilaku tetap bergelimang maksiat, disebut sebagai puasa yang “tidak sampai ke langit”.


“Allah tidak butuh lapar kita, yang Allah kehendaki adalah taubat kita,” ujar Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.


Puasa semacam ini, menurut para ulama, berisiko tidak bernilai di sisi Allah dan menjadi sebab hilangnya keberkahan Ramadhan.


Ramadhan Berlalu Tanpa Ampunan: Kerugian Besar

KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyebut orang yang melewati Ramadhan tanpa perubahan diri sebagai orang yang paling merugi secara spiritual.


“Ramadhan itu seperti karpet merah dari Allah. Kalau dilewati tanpa taubat, itu bukan kegagalan kecil,” tuturnya.


Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebut celakanya orang yang mendapati Ramadhan namun tidak diampuni dosanya, menjadi peringatan keras bahwa kesempatan emas tidak selalu datang dua kali.


Mengolok Ibadah, Menghalangi Kebaikan

Para ulama juga memberi perhatian serius pada fenomena mengejek orang berpuasa, meremehkan ibadah, atau menghalangi orang lain mencintai Ramadhan. Sikap ini dinilai sebagai dosa sosial yang dampaknya lebih luas.


“Merusak semangat ibadah orang lain itu lebih berbahaya daripada maksiat pribadi,” ujar seorang ulama dalam forum bahtsul masail.


Al-Qur’an dengan tegas menyebut bahwa orang yang menghalangi jalan Allah diancam azab yang pedih.


Syafaat Tak Turun pada Pembenci Perintah Allah

Ulama sepakat, syafaat Rasulullah ﷺ bukan hadiah gratis, melainkan karunia bagi mereka yang berusaha mencintai apa yang dicintai Nabi. Ramadhan adalah salah satunya.


“Kalau seseorang membenci Ramadhan, sejatinya ia sedang menjauh dari Rasulullah SAW,” tegas seorang guru besar ilmu hadits di Indonesia.


Ramadhan sebagai Cermin Diri

Ramadhan bukan sekadar kalender ibadah tahunan. Ia adalah cermin iman: apakah disambut dengan rindu atau justru ingin cepat berlalu.


Selagi Ramadhan masih Allah pertemukan dengan kita, para ulama mengingatkan bahwa pintu taubat masih terbuka lebar.
Karena siapa yang memuliakan Ramadhan, akan dimuliakan di hari kiamat.


Dan siapa yang memusuhinya, dikhawatirkan akan berdiri sendiri—tanpa syafaat di hari yang paling membutuhkan pertolongan.


Semoga Allah menjadikan kita umat yang dicintai Rasulullah SAW dan dirindukan oleh Ramadhan. Aamiin.