Notification

×

Iklan

Iklan

Mitos Buaya Pura-Pura Tenggelam Terbantahkan: Pakar Tegaskan Serangan Terjadi karena Habitat, Bukan Tipu Daya

Senin, 05 Januari 2026 | 12.27 WIB Last Updated 2026-01-05T05:29:10Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Instagram, terlihat kaki-kaki buaya yang seakan-akan tenggelam butuh bantuan.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Klaim yang ramai beredar di media sosial menyebutkan bahwa buaya di Indonesia sengaja berpura-pura tenggelam atau tak berdaya untuk memancing manusia.


Narasi ini viral dan memicu ketakutan publik, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan sungai, rawa, dan muara. Namun, para ahli menegaskan klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah.


Menurut Ibnu Abidin Syaida pengamat satwa liar asal Jambi, buaya tidak memiliki perilaku khusus untuk menipu manusia dengan berpura-pura terluka atau tenggelam. Apa yang kerap disalahartikan sebagai “tipuan” sejatinya merupakan perilaku berburu alami yang lazim dilakukan predator puncak tersebut.


“Buaya sering berdiam di permukaan air, berguling perlahan, atau tiba-tiba bergerak cepat. Dari sudut pandang manusia, ini bisa tampak seperti kesusahan atau tenggelam, padahal itu strategi berburu yang efisien,” jelas Ibnu.


Salah Paham Perilaku Alami

Dalam dunia satwa liar, buaya dikenal sebagai pemburu hemat energi. Mereka dapat diam dalam waktu lama, menyatu dengan lingkungan, lalu melakukan serangan singkat dan cepat. Gerakan minimal ini kerap menipu mata manusia, bukan karena buaya berniat memperdaya, melainkan karena insting bertahan hidup.


Gerakan mendadak atau posisi tubuh yang tidak biasa juga bisa terjadi saat buaya mengubah arah, menyesuaikan arus, atau mengamati mangsa. Ketika dilihat dari kejauhan atau dalam kondisi air keruh, perilaku ini mudah disalahartikan sebagai tanda kesulitan.


Faktor Utama Serangan: Berbagi Ruang

Data dan kajian lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar serangan buaya terjadi karena manusia dan buaya berbagi habitat yang sama. Aktivitas seperti mandi di sungai, memancing di tepi rawa, atau menyeberang perairan yang dikenal sebagai wilayah buaya meningkatkan risiko interaksi berbahaya.


Faktor lain yang memperparah risiko adalah jarak pandang buruk, air keruh, dan minimnya pembatas alami antara pemukiman dan habitat satwa. 


“Ini bukan soal buaya menipu manusia, tetapi manusia yang masuk ke ruang hidup buaya,” tegas pengamat tersebut.


Predator Cerdas, Bukan Makhluk Mistis

Para ahli mengakui buaya adalah predator yang cerdas dan efektif. Namun, cerita viral kerap melebih-lebihkan kecerdasan itu menjadi seolah-olah bersifat manipulatif terhadap manusia, tanpa dasar ilmiah yang kuat. Narasi semacam ini justru mengaburkan pesan keselamatan yang lebih penting.


Poin utama yang sering terlewat adalah pencegahan: menjauhi habitat buaya, mematuhi rambu peringatan, tidak beraktivitas di perairan rawan, dan meningkatkan edukasi masyarakat tentang perilaku satwa liar.


Edukasi Lebih Penting dari Sensasi

Pengamat satwa menekankan bahwa menyebarkan informasi yang tidak akurat berisiko menimbulkan kepanikan sekaligus salah arah dalam mitigasi konflik manusia-satwa. 


“Yang dibutuhkan bukan cerita sensasional, melainkan kesadaran ruang dan disiplin keselamatan,” ujarnya.


Dengan memahami perilaku buaya secara ilmiah, masyarakat diharapkan tidak terjebak mitos. Buaya tidak berpura-pura tenggelam untuk memancing manusia. Yang ada, manusia perlu lebih bijak membaca alam karena di habitat liar, kesalahan kecil bisa berakibat fatal.


***