Queensha.id - Semarang,
Sebuah video viral di media sosial mendadak menggugah kesadaran publik tentang arti kesabaran dalam berinvestasi. Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang menjual koleksi “emas tua” miliknya, yang dibeli puluhan tahun lalu dengan harga yang kini nyaris tak masuk akal jika dibandingkan hasilnya hari ini.
Pria itu menunjukkan bukti pembelian emas pada tahun 1987 dengan modal hanya sekitar Rp738.000. Namun siapa sangka, ketika emas tersebut dibawa ke toko emas pada 2025, nilainya melonjak drastis hingga mencapai Rp95.750.000. Lonjakan lebih dari 100 kali lipat itu langsung membuat warganet tercengang.
Peristiwa ini terjadi di sebuah toko emas yang berlokasi di Jalan Kanjengan Nomor 6 Blok A, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Sejak video tersebut beredar, lokasi ini pun ikut menjadi perbincangan publik.
Kisah ini kembali menegaskan satu fakta klasik namun sering diabaikan yaitu emas adalah instrumen investasi jangka panjang yang sangat tangguh. Dalam rentang waktu sekitar 38 tahun, emas tersebut bukan hanya mampu melindungi nilai uang dari inflasi, tetapi juga menghasilkan keuntungan modal yang fantastis—sesuatu yang nyaris mustahil dicapai jika uang tersebut hanya disimpan dalam bentuk tunai.
Tak heran jika video tersebut langsung memantik diskusi hangat di kalangan netizen, terutama generasi muda. Banyak yang mengaku baru benar-benar “ngeh” bahwa investasi bukan soal cepat kaya, melainkan soal waktu dan konsistensi.
Meski harga emas bisa naik-turun dalam jangka pendek, sejarah panjang menunjukkan bahwa logam mulia ini hampir selalu mencatat tren kenaikan dalam jangka panjang.
Kisah “emas tua” ini juga menjadi tamparan halus bagi kebiasaan menyimpan uang tanpa instrumen lindung nilai. Inflasi yang terus menggerus daya beli membuat uang tunai kian kehilangan nilainya dari tahun ke tahun, sementara aset keras seperti emas justru bertahan dan tumbuh.
Bagi banyak orang, cerita ini menjadi motivasi untuk mulai menyisihkan penghasilan yang sekecil apa pun untuk membeli emas. Pertanyaannya kini sederhana namun menohok: berapa nilai emas yang kita beli hari ini, 30 tahun ke depan?
BD, pemilik emas tersebut tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat hasil kesabarannya terbayar lunas.
“Saya jujur terharu dan bersyukur. Dulu beli emas ini bukan karena mau kaya, tapi karena ingin menyimpan nilai uang. Tidak pernah terpikir hasilnya bisa sebesar ini. Ini bukti bahwa sabar dan percaya pada proses itu ada hasilnya. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran, terutama buat anak-anak muda, bahwa investasi itu soal waktu, bukan instan,” ujar BD dengan senyum lega.
Kisah ini bukan sekadar soal angka, tetapi tentang keputusan kecil yang berdampak besar puluhan tahun kemudian—sebuah pengingat bahwa masa depan sering kali ditentukan oleh pilihan hari ini.
***