Notification

×

Iklan

Iklan

Pandangan Islam dan Ulama Indonesia tentang Fitnah Dajjal

Rabu, 14 Januari 2026 | 12.57 WIB Last Updated 2026-01-14T05:58:58Z
Foto, ilustrasi. Wajah Dajjal.



Queensha.id - Edukasi Islam,


Dalam Islam, Dajjal bukan sekadar simbol kejahatan atau alegori zaman modern, melainkan makhluk nyata yang pasti akan muncul sebagai bagian dari tanda besar kiamat. Keyakinan ini bersumber langsung dari Al-Qur’an, hadis sahih, dan ijma’ para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Ulama besar Indonesia menegaskan bahwa kesalahan paling berbahaya adalah meremehkan Dajjal atau menafsirkannya semata-mata sebagai simbol tanpa landasan ilmu.


KH. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kisah Dajjal dalam hadis Nabi Muhammad SAW mengandung pesan akidah yang sangat serius. 


Menurutnya, Dajjal adalah ujian yang memanfaatkan kelemahan manusia terhadap dunia, sehingga siapa pun yang imannya tidak dibangun di atas ilmu dan kesadaran tauhid berpotensi terjerumus.


“Dajjal datang bukan untuk menipu orang yang tidak beriman, tetapi untuk menguji orang yang mengaku beriman,” menurut penjelasan Quraish Shihab dalam berbagai kajian tafsir dan hadis akhir zaman.


Sementara itu, Buya Yahya menekankan bahwa fitnah Dajjal adalah puncak dari krisis iman manusia. Ia mengingatkan bahwa banyak orang saleh secara lahiriah bisa tergelincir bila tidak menjaga hati dari cinta dunia yang berlebihan.


Menurut Buya Yahya, salah satu kesalahan umat saat ini adalah merasa aman dari fitnah Dajjal hanya karena rajin beribadah, tetapi lalai memperkuat tauhid dan keikhlasan.


“Dajjal tidak akan menipu orang yang mengenal Allah dengan benar,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan oleh KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Ia menekankan bahwa Dajjal adalah ujian logika dan keyakinan. 


Gus Baha menjelaskan, seseorang bisa rajin ibadah, tetapi jika cara berpikirnya rusak dan ilmunya dangkal, ia tetap rentan terhadap fitnah Dajjal.


Menurut Gus Baha, tulisan “kafir” di dahi Dajjal hanya bisa dibaca oleh orang beriman karena iman yang disertai ilmu akan membimbing akal melihat kebenaran, bukan sekadar mata.


Adapun KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengingatkan bahwa persiapan menghadapi Dajjal bukan dengan ketakutan berlebihan, melainkan dengan membersihkan hati dari ketergantungan dunia.


“Selama dunia lebih kita takuti daripada Allah, di situlah pintu fitnah terbuka,” ujarnya dalam salah satu tausiyah.


Penegasan Penting bagi Umat

Para ulama Indonesia sepakat pada satu benang merah yaitu 

Fitnah Dajjal adalah ujian tauhid, bukan ujian keberanian.

Ia tidak datang membawa pedang, melainkan:

1. Kenyamanan,

2. Kekuasaan,

logika yang menyesatkan dan dunia yang tampak “menyelamatkan”. Karena itu, Islam mengajarkan persiapan yang sangat konkret: ilmu, tauhid, doa, dan kerendahan hati.


Jangan Merasa Aman

Dalam pandangan Islam, orang yang paling berbahaya bukan yang takut Dajjal, tetapi yang merasa tidak mungkin terfitnah.


Dajjal adalah pengingat bahwa iman bukan klaim, melainkan perjuangan seumur hidup. Maka, sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ dan ditegaskan para ulama, keselamatan bukan pada merasa kuat, tetapi pada terus memohon perlindungan kepada Allah.


Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal.”

***
Tim Redaksi.