Queensha.id - Edukasi Islam,
Di banyak lingkungan masyarakat, fenomena ini kian sering ditemui. Seseorang berusia 40 tahun ke atas yaitu usia matang secara akal dan pengalaman yang mengaku percaya kepada Allah SWT, rajin menasihati orang lain tentang kebaikan, akhlak, bahkan akhirat. Namun ironisnya, ia justru meninggalkan sholat lima waktu sama sekali.
Pertanyaan pun mengemuka: apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah iman cukup diyakini di dalam hati, tanpa diwujudkan dalam kewajiban paling mendasar dalam Islam?
Percaya, tapi Tidak Taat
Dalam Islam, iman bukan hanya pengakuan lisan atau keyakinan batin. Iman menuntut pembuktian melalui amal, dan sholat adalah tiang utama agama. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sholat merupakan pembeda paling jelas antara seorang Muslim dan kekafiran.
Orang yang mengaku percaya kepada Allah, namun dengan sadar dan terus-menerus meninggalkan sholat, berada dalam posisi yang sangat berbahaya secara akidah. Islam tidak memandang sholat sebagai ibadah tambahan, melainkan kewajiban absolut yang tidak gugur oleh usia, kesibukan, atau status sosial.
Fenomena usia 40 ke atas yang meninggalkan sholat sering kali bukan karena tidak tahu, melainkan karena lalai, menunda, atau merasa “cukup baik” dengan amal lain. Padahal, dalam Islam, amal apa pun tidak akan kokoh jika sholat ditinggalkan.
Pandangan Islam: Sholat Tak Bisa Ditawar
Dalam Al-Qur’an dan hadits, sholat selalu disebut sebagai kewajiban pertama yang akan dihisab. Bahkan amal baik lain—sedekah, akhlak mulia, atau nasihat kebaikan namun ia tidak bisa menutupi kelalaian terhadap sholat.
Islam memandang sholat sebagai hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya. Jika hubungan ini sengaja diputus, maka klaim keimanan menjadi rapuh. Usia 40 dalam Islam justru sering dipandang sebagai fase kematangan spiritual, bukan alasan untuk berkompromi dengan kewajiban.
Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia
Ulama-ulama besar Indonesia secara tegas menyoroti persoalan ini. Buya Hamka dalam berbagai tafsir dan ceramahnya menekankan bahwa iman tanpa sholat adalah iman yang terancam mati perlahan. Menurutnya, sholat bukan hanya ritual, tetapi penjaga moral dan kesadaran diri.
KH Quraish Shihab juga menegaskan bahwa sholat adalah bukti nyata keimanan. Seseorang tidak bisa mengaku beriman secara utuh jika ia dengan sengaja meninggalkan sholat, meski lisannya penuh nasihat kebaikan. Nasihat tanpa keteladanan, menurut beliau, justru berpotensi menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Sementara itu, KH Hasyim Muzadi semasa hidupnya sering mengingatkan bahwa menasihati orang lain tentang agama tanpa menjalankan kewajiban utama adalah bentuk ketidakseimbangan spiritual. Islam, kata beliau, menuntut keselarasan antara ucapan dan perbuatan.
Alarm Spiritual di Usia Matang
Usia 40 bukan masa untuk merasa aman secara spiritual. Justru di usia inilah alarm kesadaran seharusnya berbunyi paling keras. Ketika seseorang percaya kepada Allah tetapi meninggalkan sholat, itu bukan tanda kedalaman iman, melainkan peringatan keras akan kelalaian yang berbahaya.
Islam tidak menutup pintu taubat. Namun, pintu itu menuntut langkah nyata, bukan sekadar pengakuan. Sholat adalah langkah pertama dan paling menentukan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sering kita menasihati orang lain yang akan ditanya, melainkan apakah kita sendiri taat saat dipanggil untuk bersujud.
***
Tim Redaksi.