Queensha.id - Jepara,
Kesunyian pagi di Desa Mambak, Kecamatan Pakis Aji, mendadak berubah menjadi perbincangan penuh haru dan keheningan batin. Sebuah pohon raksasa berdiameter lebih dari 300 sentimeter, yang diyakini telah berumur ratusan tahun, tumbang di kawasan Punden Daruni pada Rabu Legi, 14 Januari 2026, akibat terpaan angin kencang disertai hujan deras.
Bagi warga setempat, peristiwa ini bukan sekadar kejadian alam biasa. Pohon Daruni dikenal sebagai pohon keramat, penjaga punden sakral yang dipercaya sebagai cikal bakal permulaan penghuni pertama Desa Mambak. Selama berabad-abad, tempat ini diyakini menyimpan jejak leluhur yang menyatu dengan alam dan doa-doa lintas generasi.
Tumbangnya pohon Daruni terjadi pada hari yang dalam penanggalan Jawa sarat makna, Rabu Legi merupakan hari yang kerap dikaitkan dengan perubahan besar dan peristiwa penting.
Tak sedikit warga yang memaknai kejadian ini sebagai isyarat alam, pengingat agar manusia kembali mawas diri, menjaga harmoni antara alam, tradisi, dan laku kehidupan sehari-hari.
Selama ini, Punden Daruni rutin menjadi pusat doa dan syukuran warga.
Setiap Senin Pahing di bulan Jawa apit, masyarakat berkumpul dengan khidmat, membawa shodakohan sederhana, memanjatkan doa keselamatan, serta mengenang jasa para leluhur. Tradisi turun-temurun ini menjadi pengikat spiritual antara masa lalu dan masa kini, sekaligus penanda jati diri desa.
Aura mistis Punden Daruni bukan cerita baru bagi warga Mambak. Banyak yang mengakui tempat ini memiliki karisma kuat yang menghadirkan rasa teduh sekaligus hormat bagi siapa pun yang melintas. Bahkan di masa lalu, pohon Daruni yang menjulang tinggi dikenal sebagai ancer-ancer pulang para nelayan, penanda arah dari kejauhan, simbol harapan bagi mereka yang kembali dari lautan luas.
Kini, tumbangnya pohon Daruni meninggalkan luka simbolik bagi masyarakat. Bukan hanya batang kayu yang roboh, tetapi seolah satu babak sejarah panjang ikut merebah ke tanah. Meski demikian, warga meyakini bahwa ruh dan nilai Daruni tidak pernah tumbang.
“Pohon boleh tumbang, tetapi ajaran dan pesan leluhur jangan sampai ikut hilang,” tutur Mbah Baijo, seorang sesepuh desa, dengan suara lirih sambil menatap batang pohon yang kini terbaring diam.
Peristiwa ini seakan menegaskan bahwa alam selalu berbicara yang kadang melalui bisikan angin, kadang lewat runtuhnya simbol-simbol tua yang selama ini dianggap abadi.
Desa Mambak kini menunduk dalam doa, berharap Daruni tetap menjadi penjaga, meski dalam wujud yang berbeda.
***
Wartawan: Aris BS.
Tim Redaksi.