Notification

×

Iklan

Iklan

Ritual di Tengah Longsor: Ikhtiar Spiritual Warga Desa Tempur Jepara Picu Pro dan Kontra di Media Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 | 19.31 WIB Last Updated 2026-01-15T17:00:32Z
Foto, sedang melakukan ikhtiar spiritual di wilayah Desa Tempur, Jepara.



Queensha.id – Jepara,


Di tengah kepungan longsor dan cuaca ekstrem yang belum sepenuhnya reda, Desa Wisata Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, menjadi sorotan bukan hanya karena upaya evakuasi dan perbaikan infrastruktur, tetapi juga karena langkah lain yang ditempuh warganya: ikhtiar spiritual.


Sebuah video yang diunggah akun media sosial TikTok dan Instagram @sendyalfarz pada Rabu (14/1/2026) memperlihatkan dua pria yang diduga praktisi spiritual tengah melakukan ritual di area terdampak longsor. Aksi tersebut disebut sebagai doa keselamatan dan upaya “di balik layar” agar cuaca ekstrem segera mereda, sehingga proses perbaikan jalan dan pemulihan desa dapat berjalan lebih aman.


Dalam keterangannya, akun tersebut menulis, “Matursuwun Gus bantuane, mugo diparingi selamet kabeh wargane. Wong Jowo ojo ilang Jawane, Rahayu.” Kalimat berbahasa Jawa itu menegaskan pesan pelestarian nilai budaya sekaligus harapan keselamatan bagi seluruh warga.


Antara Tradisi dan Zaman Modern

Unggahan itu sontak memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian netizen menilai ritual tersebut sebagai bentuk ikhtiar tradisional yang masih relevan, terutama bagi masyarakat Jawa yang memadukan doa, budaya, dan keyakinan kepada Tuhan.


“Ngunu iku yo minangkane ikhtiar tolak balak ben udane gowo barokah,” tulis akun N.mam, yang menilai ritual tersebut sebagai usaha menolak bala agar hujan membawa berkah, bukan bencana.


Pendapat serupa disampaikan akun Maulani ~ Alvi, yang menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari kearifan lokal untuk memohon kelancaran pembangunan jalan yang hanyut akibat longsor.


Namun, tak sedikit pula warganet yang mempertanyakan relevansi ritual spiritual di era modern. Menariknya, beberapa komentar justru menyebut adanya perubahan kondisi cuaca setelah ritual dilakukan. “Mau nggak percaya ginian, tapi hari ini hujan agak reda nggak kayak kemarin,” tulis akun Mumtadz_store, dikutip dari unggahan akun Facebook Suara Jepara, Kamis (15/1/2026).


Klarifikasi dan Pelurusan Isu

Menanggapi komentar yang mengaitkan ritual tersebut dengan pantangan pewayangan karena keberadaan Gunung Kelir di Desa Tempur, akun @sendyalfarz memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan pewayangan, melainkan murni doa keselamatan atau nyuwun keselametan agar warga terhindar dari mara bahaya atau sambikolo.


Banyak Jalan Menuju Keselamatan

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Desa Tempur menghadapi bencana dengan berbagai pendekatan. Di satu sisi, pemerintah fokus pada penanganan teknis dan perbaikan infrastruktur. 


Di sisi lain, komunitas sosial bergerak dalam pemenuhan logistik dan bantuan kemanusiaan. Sementara para sesepuh dan praktisi spiritual mengambil peran melalui jalur doa dan tradisi.


Terlepas dari pro dan kontra, tujuan semua pihak tetap sama: keselamatan warga, meredanya bencana, dan pulihnya akses Desa Tempur agar kehidupan masyarakat kembali normal.


***
Tim Redaksi.