Notification

×

Iklan

Iklan

Satu Shalawat, 70 Ribu Azab Kubur Terangkat: Ulama Indonesia Ingatkan Jangan Remehkan Cinta kepada Nabi

Kamis, 15 Januari 2026 | 14.14 WIB Last Updated 2026-01-15T07:16:33Z
Foto, siksa neraka.


Queensha.id - Edukasi Islam,



Shalawat sering terdengar ringan di lisan, namun berat nilainya di sisi Allah. Dalam berbagai kisah hikmah yang beredar di kalangan ulama, diceritakan tentang seorang hamba Allah yang hidupnya biasa-biasa saja. Ia bukan ahli ibadah besar, bukan pula sosok terkenal karena kesalehannya. 


Namun ada satu amalan yang tak pernah ia tinggalkan yaitu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.


Ketika ia wafat dan dimasukkan ke liang kubur, datanglah masa paling menegangkan bagi setiap manusia yakni malam pertama di alam barzakh. Kubur menyempit, gelap, dan sunyi. 


Namun sebelum azab itu benar-benar menimpanya, cahaya menerangi kuburnya, aroma harum memenuhi ruang sempit itu, dan ketakutan berganti ketenangan.


Dalam kisah hikmah yang diriwayatkan para ulama, disebutkan bahwa puluhan ribu bentuk azab kubur diangkat hanya karena shalawatnya kepada Rasulullah SAW. Angka “70 ribu” bukan dimaksudkan sebagai hitungan matematis yang pasti, melainkan simbol betapa luasnya rahmat Allah dan betapa agungnya kedudukan shalawat.


Penegasan Al-Qur’an dan Hadis

Keutamaan shalawat bukan sekadar kisah, tetapi memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).


Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).


Hadis lain yang diriwayatkan Al-Baihaqi menyebutkan bahwa shalawat adalah cahaya di atas shirath, meski para ulama menilai derajatnya hasan secara makna.


Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia

Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa shalawat bukan sekadar pujian, tetapi bentuk keterhubungan spiritual antara umat dan Nabi. 


Menurutnya, orang yang rajin bershalawat sedang menanamkan cinta, dan cinta itulah yang mengundang rahmat Allah dalam bentuk yang tak terduga, termasuk ketenangan saat menghadapi kematian.


KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sering mengingatkan bahwa shalawat adalah amalan yang “ringan dikerjakan, berat ditimbang.” Ia menegaskan, Allah tidak menilai besar-kecilnya amal semata, tetapi ketulusan dan kecintaan di balik amal tersebut. Dalam banyak pengajiannya, Gus Baha menyebut shalawat sebagai amalan yang paling aman bagi orang awam yang merasa miskin amal.


Sementara itu, Buya Yahya menekankan bahwa shalawat adalah sebab datangnya syafaat Nabi Muhammad SAW. Menurut beliau, orang yang membiasakan shalawat sejatinya sedang menyiapkan pembelaan di saat paling genting, yakni di alam kubur dan hari kiamat.


Mengapa Shalawat Begitu Dahsyat?

Para ulama sepakat, shalawat bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah:
pengakuan atas jasa Rasulullah SAW,
ekspresi cinta dan rindu kepada beliau,
serta doa yang kembali kepada diri sendiri dalam bentuk rahmat Allah.


Siapa yang sering mengingat Nabi Muhammad SAW di dunia, akan mendapat perhatian khusus di akhirat.


Renungan untuk Hari Ini

Mungkin shalat kita belum sempurna.
Mungkin amal kita masih sedikit.
Namun para ulama mengingatkan, jangan pernah meremehkan shalawat yang dibaca dengan hati yang jujur.


Jika satu shalawat saja mampu meringankan kubur dan mengundang rahmat, maka bagaimana dengan shalawat yang dibaca istiqamah setiap hari?


Shalawat bisa menjadi cahaya kubur, penawar dosa, dan sebab dikumpulkannya seorang hamba bersama Rasulullah SAW kelak.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


***
Tim Redaksi.