Tradisi walimatul khitan di RT 03/02, Desa Sendang, Kecamatan Kaliyamatan, Jepara, yang akan digelar pada Sabtu malam (7/2/2026) pukul 20.00 WIB, yang tak sekadar menjadi acara keluarga.
Lebih dari itu, momentum tersebut menjelma sebagai panggung perjumpaan antara dakwah, seni budaya, dan nostalgia komedi legendaris Indonesia.
Pengajian umum yang digelar di halaman rumah Bpk. H. Busro itu menghadirkan sosok Abah Kirun (KH. Syakirun) sebagai pembicara utama, dengan dua ikon Srimulat, Tessy dan Kadir, sebagai bintang tamu. Kombinasi yang jarang, namun sarat makna: tawa yang mendidik, humor yang beradab, dan pesan spiritual yang membumi.
Abah Kirun dikenal sebagai seniman ludruk legendaris asal Madiun, Jawa Timur. Ia bukan hanya pelawak, melainkan tokoh budaya yang konsisten merawat nilai “Agomo, Budoyo, lan Negoro” yang mencerminkan agama, budaya, dan kebangsaan sebagai satu kesatuan.
Melalui padepokan seni yang ia dirikan, Abah Kirun membina generasi muda agar tetap mencintai akar budaya di tengah arus modernisasi.
Tak berhenti di panggung seni, Abah Kirun juga dikenal luas sebagai pribadi dermawan. Ia aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, bahkan kerap membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu yang ingin menimba ilmu di pondok pesantren.
Bagi Abah Kirun, dakwah tak harus selalu kaku; ia bisa hadir lewat humor, kesederhanaan, dan keteladanan hidup.
Sementara itu, kehadiran Kadir dan Tessy menghadirkan nostalgia kuat bagi masyarakat Jepara. Kadir, pelawak legendaris Srimulat kelahiran 3 September 1951, dikenal lewat logat Madura yang khas, mimik polos, dan guyonan sederhana namun mengena. Pada era 80–90-an, duetnya bersama Doyok menjadi ikon komedi televisi nasional. Kini, di usia senja, Kadir tetap aktif menyapa penggemar sebagai afiliator di media sosial TikTok yang membuktikan bahwa humor lintas generasi tak pernah usang.
Tessy Srimulat, yang bernama asli Kabul Basuki, juga merupakan figur tak tergantikan dalam sejarah komedi Indonesia. Dengan karakter “wanita” centil, lipstik mencolok, serta deretan cincin akik di jemarinya, Tessy membangun identitas komedi yang ikonik. Tak banyak yang tahu, ia adalah mantan anggota KKO (kini Marinir), sebuah latar belakang yang kontras dengan peran komedinya, namun justru memperkaya sosoknya sebagai seniman total.
Pengajian ini sekaligus menjadi ungkapan syukur atas khitanan tiga cucu keluarga, Muhammad Alfarezzi Adelardo Prabowo, Davin Adelio Putra Ahmad dan Muhammad Kenzo Alvaro Siswanto. Dalam suasana religius yang hangat, tawa dan doa berpadu, memperlihatkan wajah Islam Nusantara yang ramah, inklusif, dan penuh kearifan lokal.
Acara tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tak harus menjauh dari budaya populer. Justru, melalui tokoh-tokoh seperti Abah Kirun, Tessy, dan Kadir, nilai-nilai keagamaan dapat disampaikan dengan cara yang ringan, menghibur, namun tetap bermakna yaitu mendekatkan pesan langit ke telinga bumi.
***
Tim Redaksi.