Notification

×

Iklan

Iklan

Teror Jalur Maut Alas Roban: Horor Ritual, Ibu Tunggal, dan Janji Gaib yang Tak Pernah Mati

Rabu, 14 Januari 2026 | 11.45 WIB Last Updated 2026-01-14T04:47:08Z
Foto, tangkap layar dari unggahan fleyer resmi film "Alas Roban".


Queensha.id - Film,


Nama Alas Roban sejak lama hidup dalam cerita rakyat sebagai jalur hutan paling angker di Jawa Tengah. Kini, mitos itu diangkat ke layar lebar lewat film Alas Roban, sebuah horor Indonesia yang tidak sekadar mengandalkan jumps care, tetapi menggali ketakutan dari ritual lama, janji spiritual yang dilanggar, dan kasih ibu yang dipertaruhkan hingga batas terakhir.


Disutradarai Hadrah Daeng Ratu dan ditulis Evelyn Afnilia, film ini menjanjikan pengalaman horor yang gelap, emosional, dan berakar kuat pada budaya lokal. Alas Roban resmi tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026, mengawali tahun dengan teror yang terasa dekat dan nyata.


Hutan, Bus Terakhir, dan Awal Petaka

Cerita berpusat pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal dari Pekalongan yang berjuang keluar dari hidup serba terbatas. Kesempatan bekerja di rumah sakit Semarang menjadi harapan baru bagi masa depan dirinya dan sang putri, Gendis (Fara Shakila), yang memiliki keterbatasan penglihatan.


Namun harapan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka menaiki bus terakhir yang melintasi Alas Roban. Di tengah hutan gelap yang sarat mitos, bus mendadak mogok. Sejak malam itu, hidup Gendis tak pernah sama.


Anak kecil itu mulai mendengar bisikan asing, menggambar simbol-simbol tak dikenal, dan mengalami kerasukan berulang. Perlahan terungkap, Gendis menjadi target Dewi Raras (Imelda Therinne), sosok gaib penuh dendam yang bangkit akibat janji ritual lama yang diingkari manusia.


Horor Ritual yang Menyentuh Emosi

Berbeda dari horor urban atau sekadar penampakan, Alas Roban memilih jalur horor ritual merupakan sesuatu yang jarang dieksplorasi secara serius. Teror muncul bukan hanya dari makhluk gaib, tetapi dari konsekuensi spiritual yang diwariskan lintas generasi.


Dalam upaya menyelamatkan Gendis, Sita dibantu sepupunya Tika (Taskya Namya) dan Anto (Rio Dewanto), sopir ambulans yang memahami sejarah kelam Alas Roban. Mereka harus kembali ke hutan terkutuk itu untuk menjalankan ritual terakhir, berpacu dengan waktu sebelum malam keramat tiba.


Di sinilah kekuatan film ini terasa: horor dibangun bersamaan dengan konflik batin seorang ibu yang harus memilih antara rasa takutnya sendiri atau keselamatan anaknya.


Akting Solid dan Atmosfer Pekat



Michelle Ziudith tampil berbeda dari peran-peran sebelumnya. Ia membawa emosi kelelahan, ketakutan, sekaligus keberanian seorang ibu yang tak punya pilihan selain melawan. Fara Shakila tampil mengesankan sebagai Gendis, menghadirkan horor yang sunyi dan mengganggu. Sementara Rio Dewanto memberi bobot lewat karakter Anto yang membumi dan penuh pengetahuan lokal.


Visual hutan, kabut tebal, jalan sunyi, serta malam tanpa cahaya dimanfaatkan maksimal. Alas Roban tidak terburu-buru menakut-nakuti, melainkan membiarkan ketegangan tumbuh perlahan—membuat penonton merasa terjebak bersama para karakternya.


Lebih dari Sekadar Film Seram

Dengan durasi 111 menit dan rating 17+, film produksi Unlimited Production ini menempatkan horor sebagai medium untuk membahas iman, janji, dan tanggung jawab manusia terhadap kepercayaan leluhur. Alas Roban bukan sekadar lokasi angker, melainkan simbol: bahwa ada hal-hal yang tak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.


Alasan Wajib Masuk Daftar Tonton

1. Diangkat dari jalur angker nyata, bukan fiksi belaka.

2. Horor ritual dan janji spiritual, bukan sekadar penampakan.

3. Kisah ibu dan anak yang kuat secara emosional.

4. Akting solid para pemeran utama dan pendukung.

5. Atmosfer gelap dan mencekam tanpa eksploitasi berlebihan.



Alas Roban menawarkan horor yang meninggalkan jejak bahkan setelah lampu bioskop menyala. Ia tidak hanya menakuti, tetapi juga mengajak penonton bertanya: apa yang terjadi jika janji lama dilupakan, dan siapa yang harus menebusnya?


Bagi pencinta horor Indonesia yang mencari cerita gelap, intens, dan berakar pada mitos Nusantara, film ini layak dinantikan.


***
Tim Redaksi.