Notification

×

Iklan

Iklan

Anak-anak ASN Jepara Turun ke Meja Ukir, Pemkab Mulai “Gerakan Warisan”: Seni Ukir Tak Boleh Mati di Tangan Generasi Sendiri

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12.57 WIB Last Updated 2026-02-14T05:59:42Z

Queensha.id – Jepara,


Upaya menyelamatkan seni ukir Jepara dari ancaman ditinggalkan generasi muda mulai digerakkan dengan langkah simbolis: untuk pertama kalinya dalam sejarah, putra-putri Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jepara dilatih mengukir secara khusus.


Program bertajuk Pelatihan Pelajar Mengukir ini digelar oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara bersama Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Jepara pada Sabtu–Minggu, 14–15 Februari 2026 di Jepara Wood Carving Gallery. Kegiatan dibuka Sekretaris Daerah Jepara, Ary Bachtiar, dengan penyerahan palu ukir secara simbolis kepada peserta.


Pelatihan ini diikuti anak-anak ASN dari jenjang SD hingga SMA. Mereka mendapat pembinaan langsung dari para pengrajin senior Jepara, di antaranya Sutarya sebagai instruktur utama bersama Muslikanto, Sutarno, Rumini, dan Sulistyani.



Sekda Jepara Ary Bachtiar menegaskan, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan respons atas persoalan serius: seni ukir yang menjadi identitas Jepara mulai kekurangan pewaris.


“Seni ukir mengalami persoalan cukup serius karena mulai ditinggalkan. Tidak banyak anak muda yang berminat menekuni. Karena itu langkah yang dilakukan yayasan bersama Dharma Wanita ini sangat baik untuk menanamkan rasa cinta anak-anak Jepara terhadap seni ukir,” ujarnya saat membuka kegiatan, Sabtu (14/2).


Ia berharap program ini berkelanjutan dan mampu memunculkan minat generasi baru agar warisan ukir Jepara tidak berhenti di tangan generasi sekarang.


Didukung Bupati, Masuk Agenda Pelestarian Budaya

Ary juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga potensi khas Jepara agar tidak punah. Selain seni ukir, ia menyinggung potensi lokal lain yang mulai hilang, seperti durian Petruk.


“Bupati Jepara berkomitmen mengembangkan kembali pelestarian seni ukir agar tidak punah. Termasuk potensi khas lain seperti durian Petruk yang kini ingin dihidupkan kembali,” katanya.


Kelas Khusus Anak ASN, Dua Kelompok Usia

Pengurus yayasan, Hadi Priyanto, menjelaskan pelatihan dibagi menjadi dua kelompok: tingkat SD–SMP dan SMA, masing-masing mengikuti sesi pelatihan intensif selama tujuh jam.


Program ini merupakan bagian dari kelas Pelajar Mengukir angkatan ke-11 sejak galeri diresmikan Bupati Jepara. Fokusnya mengenalkan seni ukir sejak dini di kalangan pelajar.


“Kami ingin menanamkan kembali benih cinta seni ukir yang mulai ditinggalkan pewarisnya. Sekolah saat ini tidak lagi menjadi ruang belajar ukir karena keterbatasan kurikulum, sarana, dan guru yang memiliki keterampilan tersebut,” ujar Hadi.


Kritik Halus: Warisan Ukir Tak Bisa Diserahkan ke Pasar

Program khusus untuk anak ASN ini menjadi langkah awal yang menarik, namun sekaligus memunculkan pertanyaan publik: apakah pelestarian ukir cukup jika hanya menyasar lingkungan tertentu?


Pengamat budaya di Jepara menilai, pelatihan ini harus diperluas ke sekolah umum dan masyarakat luas agar tidak terkesan eksklusif.


Meski begitu, inisiatif ini tetap dianggap sebagai sinyal penting bahwa pemerintah daerah mulai serius memikirkan regenerasi pengrajin ukir.


Harapan: Dari Anak ASN ke Anak Jepara
Pelatihan dua hari ini diharapkan menjadi pemantik gerakan lebih besar: mengembalikan ukir sebagai kebanggaan generasi muda Jepara.


Jika tidak ada regenerasi, seni ukir yang selama ini menjadi identitas kota bisa kehilangan napas di tangan zaman.
Kini, palu ukir sudah diserahkan.


Pertanyaannya yaitu apakah generasi muda Jepara siap memegangnya lebih lama?


***
Sumber: Hadepe.
Tim Redaksi.