Notification

×

Iklan

Iklan

Banjir Tinggalkan “Emas Cokelat”: Pasir Super Gunung Muria Membanjiri Kali Gelis Jepara

Minggu, 01 Februari 2026 | 08.55 WIB Last Updated 2026-02-01T01:58:19Z
Foto, aliran sungai (Kali Gelis Jepara).


Queensha.id — Jepara,


Di saat banjir masih menyisakan trauma bagi sebagian warga Jepara, sebuah kabar tak terduga justru mencuat dari bantaran Kali Gelis, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo. Bukan tentang kerusakan atau kerugian, melainkan tentang limpahan pasir berkualitas tinggi yang kini disebut warga sebagai “emas cokelat” dari lereng Gunung Muria.


Unggahan seorang warga bernama Saiful Anwar di media sosial mendadak menyedot perhatian publik. Dalam unggahan tersebut, Saiful memperlihatkan kondisi aliran Kali Gelis pasca-banjir yang dipenuhi material pasir halus berkualitas super, terbawa derasnya arus dari kawasan Tempur, Kecamatan Keling.


Pasir tersebut dikenal luas di kalangan tukang dan pelaku bangunan sebagai material unggulan yang bersih, padat, dan kokoh. Biasanya dibanderol dengan harga lebih tinggi dibanding pasir lokal lainnya.


Harga Merakyat, Kualitas Kelas Atas

Kabar ini bak oase bagi warga yang tengah merencanakan pembangunan rumah atau proyek kecil. Saiful menyebutkan, pasir hasil endapan banjir itu kini bisa didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau.


1. Harga: Rp160.000 per pick-up (siap angkut).

2. Kualitas: Pasir “super” asal Tempur, Keling.

3. Lokasi: Kali Gelis, Bandungharjo, Donorojo, Jepara.



Bagi sebagian warga, harga tersebut jauh lebih murah dibanding pasokan pasir serupa yang biasanya harus didatangkan dari lokasi yang lebih jauh.


Hikmah di Tengah Musibah

Lebih dari sekadar transaksi material bangunan, fenomena ini memunculkan sisi lain dari bencana alam. Dalam keterangannya, Saiful menuliskan pesan reflektif yang menyentuh banyak warganet.


Ia menilai, banjir yang semula membawa kecemasan justru meninggalkan peluang ekonomi bagi para pekerja pengambil pasir dan warga sekitar yang menggantungkan hidup dari sektor informal.


“Pasir saking Tempur, Keling, Jepara. Pasca banjir musibah, ternyata di balik musibah ada hikmahnya,” tulis Saiful.
Unggahan tersebut pun menuai beragam respons dari rasa syukur, ketertarikan membeli, hingga harapan agar pengelolaan material alam ini tetap memperhatikan keselamatan dan kelestarian lingkungan.


Di tengah bencana yang kerap hanya dilihat dari sisi duka, kisah Kali Gelis menjadi pengingat bahwa alam juga menyimpan ironi: musibah dan berkah kadang datang dari arus yang sama.


***
Sumber: SJ.
Tim Redaksi.