Notification

×

Iklan

Iklan

Baratan Kriyan Jepara Menggema: Ribuan Warga Padati Kirab Ratu Kalinyamat, Tradisi Syaban Hidupkan Spirit Ramadan

Senin, 09 Februari 2026 | 21.25 WIB Last Updated 2026-02-09T14:29:08Z
Foto, sosok pemeran Ratu Kalinyamat pada event tradisi Baratan tahunan di Desa Kriyan, kecamatan Kalinyamatan, Jepara.


Queesha.id – Jepara,

Semangat tradisi dan nilai religius kembali menguat di Kecamatan Kalinyamatan. Setelah suksesnya Festival Baratan Kalinyamatan 2026 yang menghadirkan sendratari “Sang Teladan Ratu Kalinyamat” di Masjid Baitul Izzah Bandungrejo dan Lapangan Bandungrejo pada 2 Februari 2026, kini tradisi tahunan kembali digelar di Desa Kriyan, Minggu malam (8/2/2026).


Ribuan warga memadati kawasan sekitar Masjid Al-Makmur Kriyan untuk mengikuti Pesta Baratan yang digelar dalam rangka menyambut bulan Syaban sebagai penanda semakin dekatnya Ramadan. Sejak pukul 19.00 WIB, masyarakat dari berbagai penjuru desa hingga kecamatan sekitar telah berkumpul untuk menyaksikan kirab budaya yang sarat makna.


Prosesi kirab menampilkan lakon Ratu Kalinyamat yang berjalan menuju titik penyerahan Banyu Kahuripan (air kehidupan), didampingi para dayang-dayang. Setelah doa bersama, tokoh Ratu Kalinyamat menaiki kereta kencana untuk berkeliling desa, disambut antusias warga di sepanjang rute.


Barisan sapu jagat membuka jalan di tengah padatnya penonton. Rombongan kirab diikuti dayang-dayang, penari tradisional, tokoh agama, serta anak-anak yang membawa lampu impes. Satu gunungan berisi hasil bumi dan puli juga diarak sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat.


Tokoh agama Desa Kriyan, Muhammad, menjelaskan bahwa Pesta Baratan merupakan tradisi turun-temurun yang digelar setiap bulan Syaban sebagai pengingat datangnya Ramadan.


“Baratan itu tradisi memperingati bulan Syaban sebagai pengingat sebentar lagi masuk bulan Ramadan. Tahun ini pelaksanaannya berbeda, karena sebenarnya ini konsep lama sebelum pandemi. Baru bisa kita jalankan kembali tahun ini,” ujar Muhammad.


Selain kirab budaya, rangkaian kegiatan juga diisi pembacaan Surah Yasin tiga kali dan doa untuk ahli kubur pada malam 15 Syaban, serta kegiatan Ngaji Budaya. Dengan mengusung tema “Kutha Bedah”, pelaksanaan tahun ini menegaskan kembali batas-batas wilayah Keraton Kalinyamat di masa lalu.


“Ada ritual khusus. Kalau di kita, lakon Ratu Kalinyamat ikut selamatan, sedangkan yang ritual tertentu dilakukan oleh panitia khusus,” jelasnya.


Muhammad berharap tradisi Baratan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi generasi muda untuk memahami sejarah, budaya, dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. 


Ia juga berharap tradisi ini dapat digelar lebih konsisten setiap tahun dan mendapat dukungan luas dari masyarakat maupun pemerintah.


Gelaran Baratan Kriyan 2026 menjadi bukti bahwa warisan budaya Jepara masih hidup dan terus dirawat. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengikat identitas, sekaligus pengingat spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan.


***
Tim Redaksi.