Notification

×

Iklan

Iklan

Belajar Tegas di Tengah Budaya Sungkan: Saat Mencintai Diri Sendiri Dianggap Egois

Selasa, 03 Februari 2026 | 08.33 WIB Last Updated 2026-02-03T01:41:01Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook.


Queensha.id – Edukasi Sosial,


Di tengah budaya sosial yang menjunjung tinggi rasa sungkan dan takut dianggap tidak enak, sebuah poster bertajuk “Cintai Dirimu Apa Adanya” justru menampar kesadaran publik. Visual tersebut menyampaikan pesan sederhana namun tajam: menghargai diri sendiri adalah bentuk keberanian, bukan keegoisan.


Poster itu memuat serangkaian pernyataan lugas yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari yaitu 

1. Kalau diabaikan jangan mendekat lagi,

2. Kalau dikhianati jangan percaya lagi,

3. Kalau tidak diundang jangan datang,

4. Kalau tidak dihargai jaga jarak.


Pesan-pesan tersebut bukan ajakan untuk memutus hubungan secara serampangan, melainkan peringatan agar seseorang tidak terus-menerus menempatkan dirinya dalam posisi yang merendahkan martabatnya sendiri.


Makna di Balik Visual: Tegas Tanpa Kasar

Secara visual, poster ini menggambarkan simbol-simbol emosional yang dekat dengan realitas sosial yakni ponsel dengan hati retak, pintu bertuliskan “No Invite”, hingga dua orang duduk berjauhan di bangku taman. Semuanya menyiratkan satu pesan kuat yaitu penolakan dan pengabaian tidak selalu diucapkan, tapi sangat terasa.


Pesan “kalau tidak diberitahu jangan tanya” misalnya, menggambarkan fenomena relasi timpang di mana satu pihak selalu berinisiatif, sementara pihak lain abai. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat melahirkan kelelahan emosional dan krisis harga diri.


Pandangan Pengamat Sosial Jepara

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai pesan dalam poster tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya di daerah yang masih kuat dengan budaya ewuh pakewuh.


“Banyak orang terjebak dalam relasi sosial yang tidak sehat karena takut dicap sombong, tidak setia kawan, atau tidak tahu diri. Padahal, menjaga jarak dari perlakuan yang merendahkan adalah bentuk perawatan diri secara sosial dan psikologis,” ujar Purnomo Wardoyo, Selasa (3/2/2026).


Menurutnya, masyarakat sering salah kaprah memaknai sikap tegas sebagai tindakan kasar. Padahal, ketegasan adalah batas yang sehat, bukan serangan terhadap orang lain.


“Sikap tegas itu bukan memutus silaturahmi, tapi menata ulang posisi diri agar tidak terus-menerus menjadi korban pengabaian,” tambahnya.


Masalah Sosial yang Lebih Dalam

Fenomena ini banyak terjadi dalam lingkar pertemanan, hubungan kerja, bahkan keluarga. Seseorang tetap datang meski tak diundang, tetap memberi meski tak dihargai, dan tetap percaya meski berulang kali dikhianati oleh semua atas nama toleransi dan rasa tidak enak.


Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi melahirkan generasi yang lelah secara emosional namun takut bersuara, yang akhirnya meledak dalam bentuk frustrasi, sinisme, atau menarik diri dari lingkungan sosial.


Solusi: Tegas dengan Cara Beradab

Poster tersebut juga menekankan bahwa ketegasan tidak harus kasar. Menolak undangan secara halus, menjaga jarak tanpa membuat keributan, dan berhenti berharap tanpa menyebar kebencian adalah langkah-langkah dewasa yang patut dipraktikkan.


Beberapa solusi yang dapat dilakukan:
Bangun batas yang jelas dalam relasi sosial dan emosional.


Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah.

Evaluasi hubungan: apakah memberi energi atau justru mengurasnya.
Utamakan komunikasi jujur dan tenang, bukan sindiran atau kemarahan.
Sadari nilai diri, bahwa dihargai bukan sesuatu yang harus diminta-minta.



Menghargai diri sendiri bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi menolak diperlakukan tanpa martabat. Di tengah masyarakat yang sering memuja kepura-puraan demi keharmonisan semu, pesan dalam poster ini menjadi pengingat penting: tegas adalah sehat, menjaga jarak adalah hak, dan mencintai diri sendiri adalah keharusan.


Jangan takut bersikap tegas, karena kehilangan harga diri jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan pengakuan.


***
Tim Redaksi.