Queensha.id - Edukasi Sosial,
Fenomena manusia lahir dengan telapak tangan menggenggam namun wafat dengan tangan terbuka kerap dijadikan bahan renungan dalam ceramah agama. Pendakwah asal Jawa Timur, KH Anwar Zahid, pernah menyinggung hal tersebut sebagai simbol perjalanan hidup manusia.
Dalam salah satu ceramahnya, ia menuturkan bahwa saat manusia meninggal dunia, tidak ada yang bisa digenggam atau dibawa.
“Manusia di manapun pasti tidak ada yang menggenggam atau memegang barang apa pun ketika meninggal. Telapak tangannya terbuka, artinya melepaskan semua yang ada di dunia,” ujarnya.
Pernyataan itu dimaknai sebagai pengingat bahwa harta, jabatan, dan kepemilikan duniawi pada akhirnya harus ditinggalkan. Filosofi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi di kalangan ulama dan cendekiawan Muslim di Indonesia.
Simbol Fitrah dan Perjalanan Hidup
Sejumlah ulama menilai, genggaman bayi saat lahir merupakan refleks biologis, namun secara simbolik bisa dimaknai sebagai potensi keinginan manusia bahwa ingin tahu, ingin memiliki, dan ingin menguasai. Sifat itu merupakan naluri yang harus diarahkan oleh nilai agama dan pendidikan.
Cendekiawan Muslim Indonesia, Quraish Shihab, dalam berbagai kajiannya menegaskan bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah, membawa potensi baik dan buruk. Potensi tersebut akan berkembang sesuai bimbingan lingkungan dan nilai spiritual. Dalam konteks ini, genggaman tangan bayi dapat dimaknai sebagai potensi menerima dan belajar, bukan semata simbol keserakahan.
Sementara itu, dai nasional Abdul Somad dalam sejumlah tausiyah menekankan bahwa kehidupan dunia hanyalah titipan. Manusia dianjurkan untuk tidak terlalu terikat pada kepemilikan materi.
“Semua yang ada di dunia hanya dititipkan. Saat ajal tiba, kita pulang tanpa membawa apa-apa,” menjadi pesan yang kerap disampaikan dalam ceramahnya.
Dalam perspektif spiritual, tangan yang terbuka saat manusia wafat sering dimaknai sebagai simbol pelepasan. Manusia datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan kembali kepada Tuhan dalam keadaan yang sama.
Sebagian ulama menggambarkan perjalanan hidup manusia sebagai proses belajar membuka genggaman. Ketika kecil, manusia cenderung ingin memiliki. Namun seiring kedewasaan, ia diajarkan berbagi, bersedekah, dan melepaskan keterikatan pada dunia.
Filosofi ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya amal. Yang tersisa bukanlah harta atau benda yang digenggam, melainkan kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain.
Pesan Moral bagi Masyarakat
Renungan tentang tangan yang menggenggam saat lahir dan terbuka saat wafat menjadi simbol sederhana namun kuat tentang hakikat hidup. Ulama menekankan bahwa manusia tidak dilarang memiliki harta atau berusaha, tetapi harus menyadari bahwa semua bersifat sementara.
Dengan demikian, filosofi tersebut mengajak manusia untuk tidak terjebak pada keserakahan. Kehidupan di dunia dipandang sebagai kesempatan mengumpulkan amal, berbagi kebaikan, dan menebar manfaat sebelum akhirnya kembali kepada Sang Pencipta dengan tangan kosong.
***
Tim Redaksi.