Queensha.id - Edukasi Sosial,
Ceramah agama yang disampaikan pendakwah asal Jawa Timur, KH Anwar Zahid, kembali menjadi perbincangan. Dalam salah satu tausiyahnya, ia menyebut bahwa di dunia hewan hampir tidak ada istilah krisis atau paceklik seperti yang dialami manusia.
Menurutnya, hewan di alam selalu menemukan makanannya, sementara manusia justru sering mengalami krisis ekonomi, kelaparan, dan kesenjangan.
Pernyataan itu tidak dimaksudkan sebagai perbandingan literal, melainkan sebagai refleksi filosofis tentang cara manusia memandang rezeki dan kehidupan.
Tafsir Filosofis: Naluri vs Ambisi
Dalam perspektif keagamaan, sejumlah ulama menilai bahwa hewan hidup dengan naluri yang sederhana. Mereka makan sekadar untuk bertahan hidup dan tidak menimbun berlebihan. Sementara manusia memiliki akal, ambisi, dan sistem sosial-ekonomi yang kompleks.
Cendekiawan Muslim Indonesia, Quraish Shihab, dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa Al-Qur’an menyebut rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Tuhan. Namun manusia diberi akal dan kebebasan memilih, sehingga ia bisa menciptakan sistem yang adil—atau justru menimbulkan kesenjangan.
Menurutnya, krisis pada manusia sering kali bukan karena ketiadaan rezeki di bumi, melainkan karena distribusi yang tidak merata, keserakahan, atau salah kelola.
Hal senada disampaikan dai nasional Abdul Somad dalam sejumlah ceramah. Ia menekankan bahwa hewan tidak menimbun dan tidak berlebihan, sedangkan manusia sering kali menyimpan kekayaan melebihi kebutuhan. Akibatnya, sebagian manusia hidup berkecukupan, sementara yang lain mengalami kekurangan.
Pesan Moral dari Perbandingan
Filosofi yang disampaikan KH Anwar Zahid dipahami sebagai kritik sosial sekaligus nasihat spiritual. Hewan hidup dalam keseimbangan alam, sedangkan manusia sering kali menciptakan krisis melalui perilaku konsumtif, persaingan berlebihan, dan ketimpangan ekonomi.
Dalam perspektif ulama, perbandingan ini mengandung pesan bahwa manusia seharusnya belajar dari kesederhanaan makhluk lain: makan secukupnya, tidak berlebihan, dan berbagi dengan sesama. Rezeki dipandang sebagai amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab sosial.
Beberapa ulama juga menekankan bahwa manusia memang diuji dengan kesulitan ekonomi sebagai bagian dari ujian hidup. Berbeda dengan hewan, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk saling membantu dan membangun sistem yang adil.
Relevansi di Tengah Krisis Modern
Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, pesan tersebut dianggap relevan sebagai pengingat. Krisis pada manusia tidak selalu berarti bumi kekurangan sumber daya, melainkan sering kali akibat kesalahan manusia dalam mengelola dan membaginya.
Filosofi dari ceramah tersebut menegaskan bahwa manusia memiliki dua pilihan: hidup dengan kesadaran bahwa rezeki adalah titipan yang harus dibagi, atau terjebak dalam siklus keserakahan yang justru memicu krisis.
Dengan demikian, perbandingan antara dunia hewan dan manusia bukan sekadar retorika, melainkan refleksi mendalam tentang tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal yaitu untuk menciptakan keseimbangan, keadilan, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan.
***
Tim Redaksi.