Queensha.id - Edukasi Sosial,
Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak petuah orang tua Nusantara kerap dicap sebagai takhayul. Namun siapa sangka, sejumlah larangan dan nasihat yang diwariskan turun-temurun itu justru memiliki dasar logika ilmiah dan relevan hingga hari ini.
Sebuah infografik yang beredar luas di masyarakat memuat tujuh mitos Nusantara yang selama ini dianggap mistik, tetapi ternyata sejalan dengan penjelasan medis dan sains modern. Dari larangan keluar rumah saat maghrib hingga pantangan duduk di atas bantal, semuanya berangkat dari pengalaman empiris nenek moyang dalam menjaga keselamatan hidup.
Mitos yang Ternyata Masuk Akal
Salah satu contoh paling populer adalah fenomena ketindihan. Dalam cerita rakyat, kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Namun dunia medis menjelaskannya sebagai sleep paralysis, yaitu kondisi ketika otak terbangun tetapi tubuh masih berada dalam fase tidur REM.
Larangan memakai baju hijau di Pantai Selatan pun sering dikaitkan dengan mitos Nyai Roro Kidul. Padahal secara ilmiah, warna hijau sulit dikenali mata manusia di tengah gelombang laut, sehingga meningkatkan risiko terseret ombak tanpa cepat terlihat oleh penjaga pantai.
Begitu pula larangan duduk di atas bantal yang disebut bisa menyebabkan bisulan. Faktanya, bantal adalah media empuk yang menyerap keringat dan bakteri. Duduk di atasnya berpotensi menimbulkan infeksi kulit, terutama di area sensitif.
Larangan keluar rumah saat maghrib, yang sering ditakut-takuti dengan cerita wewe gombel, sejatinya berkaitan dengan kondisi cahaya redup yang meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi anak-anak.
Pantangan ibu hamil makan nanas, meski tak sepenuhnya mutlak, berkaitan dengan kandungan enzim bromelain yang dalam kondisi tertentu dapat memicu kontraksi rahim jika dikonsumsi berlebihan.
Sementara itu, anggapan mandi malam menyebabkan rematik memiliki korelasi dengan suhu dingin yang dapat memicu nyeri otot dan sendi pada orang tertentu.
Adapun praktik kerokan yang disebut mengeluarkan “angin jahat”, secara medis dapat melancarkan peredaran darah dan merangsang pelepasan endorfin, sehingga tubuh terasa lebih rileks.
Pandangan Sosial: Kearifan Lokal yang Distorikan Mitos
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai bahwa banyak nasihat leluhur sengaja dibungkus dengan unsur mistik agar mudah dipatuhi masyarakat awam pada masanya.
“Dulu belum ada istilah medis atau penjelasan ilmiah. Maka bahasa yang dipakai adalah mitos, simbol, dan cerita mistik. Itu strategi sosial agar pesan keselamatan cepat diterima,” ujar Purnomo, Senin (1/2/2026).
Menurutnya, kesalahan generasi modern adalah menertawakan mitos tanpa memahami substansinya. Padahal, di balik larangan-larangan itu terdapat pengalaman panjang manusia Nusantara dalam beradaptasi dengan alam dan risiko kehidupan.
“Leluhur kita mungkin tidak mengenal mikroskop, tapi mereka pengamat alam yang sangat tajam. Mitos adalah hukum tak tertulis untuk menjaga nyawa,” tegasnya.
Purnomo menambahkan, ketika masyarakat kehilangan penghargaan terhadap kearifan lokal, maka yang hilang bukan hanya budaya, tetapi juga mekanisme sosial perlindungan diri yang telah terbukti lintas zaman.
Antara Tradisi dan Ilmu Pengetahuan
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi dan sains sejatinya tidak selalu bertentangan. Justru banyak nilai lokal yang menjadi fondasi awal pengetahuan modern, meski dikemas dengan bahasa yang sesuai zamannya.
Masyarakat diimbau untuk tidak serta-merta menelan mentah-mentah mitos, tetapi juga tidak gegabah menolaknya. Membaca ulang warisan leluhur dengan pendekatan rasional adalah langkah penting agar budaya tetap hidup tanpa kehilangan relevansi.
Karena pada akhirnya, apa yang disebut mitos hari ini, bisa jadi adalah ilmu yang terlambat kita pahami.
***
Tim Redaksi.