Queensha.id – Edukasi Kesehatan,
Buah sukun selama ini identik dengan gorengan sederhana di warung pinggir jalan atau camilan murah di pasar tradisional. Namun di balik citra “buah kampung” itu, sukun justru tengah naik kelas di panggung internasional. Di sejumlah negara maju, komoditas tropis ini mulai dilirik sebagai superfood dan bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pangan masa depan dunia.
Di Amerika Serikat, kawasan Pasifik, hingga Eropa, sukun kini diteliti serius sebagai tanaman pangan yang tahan perubahan iklim. Tanaman ini dikenal sebagai climate-resilient crop, mampu tumbuh di berbagai kondisi cuaca ekstrem, dari panas berkepanjangan hingga curah hujan tidak menentu. Sukun juga tidak membutuhkan perawatan rumit maupun pupuk kimia intensif. Sekali ditanam, pohonnya bisa berbuah puluhan tahun.
Data lembaga pangan internasional menunjukkan satu pohon sukun dewasa mampu menghasilkan sekitar 150–200 buah per tahun. Dengan berat rata-rata satu buah mencapai 3 kilogram, satu pohon dapat memproduksi ratusan kilogram bahan pangan setiap tahun. Produktivitas tinggi dengan perawatan minimal inilah yang membuat sukun disebut sebagai salah satu kandidat “future food” global.
Di pasar internasional, nilai ekonominya juga melesat. Sukun diolah menjadi tepung bebas gluten (gluten-free) yang diminati pasar makanan sehat. Tepung sukun dijual dengan harga berkali-kali lipat dibanding tepung terigu biasa.
Produk ini banyak dicari karena kandungan serat, vitamin C, potasium, magnesium, serta protein nabatinya yang cukup tinggi. Tepung sukun juga cocok untuk diet bebas gluten, gaya hidup vegan, dan pola makan sehat berbasis tanaman.
Ironisnya, Indonesia yang merupakan salah satu pusat keragaman sukun dunia justru belum memaksimalkan potensi tersebut. Di banyak daerah, sukun masih dianggap buah musiman bernilai rendah. Saat panen melimpah, buah sering dibagikan gratis atau bahkan terbuang karena tidak terserap pasar. Belum banyak strategi pengolahan pascapanen maupun dukungan industri yang serius menjadikannya komoditas unggulan.
Padahal Indonesia memiliki banyak varietas sukun lokal dengan karakter berbeda, mulai dari tekstur, rasa, hingga kandungan gizi. Jika dikelola secara terarah, sukun berpotensi menjadi komoditas ekspor strategis seperti kopi, kakao, atau porang. Terlebih di tengah kekhawatiran krisis pangan global dan perubahan iklim, dunia membutuhkan sumber pangan alternatif yang tahan banting dan bergizi.
Beberapa negara justru sudah bergerak lebih cepat. Di Hawaii, lembaga riset pertanian membangun bank genetik sukun dan mengembangkan varietas unggul. Di negara-negara Pasifik seperti Fiji dan Samoa, sukun masuk dalam program ketahanan pangan nasional dan mendapat dukungan pemerintah. Bahkan, penelitian terkait sukun sebagai bahan pangan masa depan terus berkembang di berbagai institusi internasional.
Di Indonesia, peluang itu masih terbuka lebar. Pengembangan tepung sukun, roti, mie, biskuit, hingga produk pangan sehat berbasis sukun bisa menjadi pasar baru bagi UMKM dan industri pangan. Desa-desa penghasil sukun berpotensi membangun rantai produksi dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya hingga pengolahan bernilai tambah.
Para pengamat pangan menilai, dengan dukungan kebijakan, riset, dan industri, sukun dapat menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia di masa depan. Buah yang selama ini dipandang sederhana justru menyimpan potensi besar sebagai solusi pangan berkelanjutan.
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap krisis iklim dan pangan, sukun bisa menjadi “emas hijau” yang selama ini terabaikan. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengangkatnya dari sekadar gorengan pinggir jalan menjadi komoditas strategis yang mendunia?
***
Oleh: Pengamat Sosial Jepara, Purnomo Wardoyo.
Tim Redaksi.